Jumat, 21 November 2014

Anak-Anak Kecil di Gang Sempit

Syaiha | trainer nasional | Pengidap Polio | penulis inspiratif | novelis | guru | suami romantis | syaiful hadi | blogger | penulis produktif | guru hebat | inspirator nasional | http://syaiha.com/
SYAIHA - Saya tidak pernah tahu, tidak paham, apalagi mengerti, mengapa setiap kali pulang kerja, setiap kali saya melangkah di jalan gang sempit itu menuju kontrakan saya yang mungil, maka anak-anak yang entah memang sedang berkumpul atau sengaja menunggu saya itu, pasti langsung berhamburan, berlari mendekat dan menggamit tangan saya. Salim.

Jika sudah demikian, saya tidak akan peduli lagi, apakah ia sedang ingusan atau tidak, entah air liurnya menempel di tangan saya atau tidak. Semua kejijikan itu hilang begitu saja karena polah mereka yang menggemaskan. Anak-anak selalu begitu, lucu, menarik, dan ngangenin. Jika setiap sore, saat saya pulang dari mengajar saja bisa bahagia dengan kehadiran mereka di gang-gang sempit itu, apalagi nanti ketika anak saya lahir dan tumbuh ya? Pasti amazing banget!

Apa kata sahabat-sahabat saya yang sudah memiliki keturunan waktu itu? “Selelah apapun kita saat pulang kerja, maka lelah itu akan hilang begitu saja saat ngeliat senyum anak-anak kita yang menggemaskan di rumah. Bahkan, dengan kehadiran anak kita, bisa jadi istri kita pun akan dinomor duakan. Anak yang menjadi nomor satu.”

Entahlah, saat ini saya belum bisa memberikan komentar banyak akan hal itu. Saya baru akan menjadi ayah dua setengah bulan lagi, Insya Allah. Tapi yang pasti, sekarang, saat saya baru bisa merasakan tendangan kaki anak saya di rahim istri saja sudah sedemikian menyenangkannya, apalagi nanti. Boleh jadi, yang dikatakan sahabat saya itu memang benar adanya. 

Kamis, 20 November 2014

Ini Menakjubkan!

Syaiha | trainer nasional | Pengidap Polio | penulis inspiratif | novelis | guru | suami romantis | syaiful hadi | blogger | penulis produktif | guru hebat | inspirator nasional | http://syaiha.com/
SYAIHA - Meletakkan tangan di atas perut istri saya yang kian membuncit, lalu merasakan anak kami bergerak-gerak di dalamnya itu sungguh menakjubkan. Sejak dua garis merah terbentuk di test pack (Ini bener nggak ya nulisnya?), lalu melewati hari demi hari, menjadi bulan demi bulan hingga perut istri kian besar, itu keajaiban. Bagaimana bisa, hanya dari cairan, yang kita kenal sebagai sperma, yang awalnya tidak ada bentuknya sama sekali jika dipandang, bisa menjadi seorang bayi mungil yang menggemaskan? 

Inilah keajaiban Allah, Dia maha kuasa, maha hebat, dan bisa melakukan segala-galanya. 

Merasakan gerakan-gerakan itu, entahlah itu pukulan tangan atau tendangan kaki anak kami, itu menjadi kegiatan rutin saya sekarang, setiap hari. Ketika hendak tidur, saat saya baru saja hendak lelap, saat itu pula lah anak kami aktif di perut ibunya. Ia seakan ingin bilang, "Abi... Kok aku nggak diajak ngobrol sih? Padahal kan seharian Abi kerja, emang nggak kangen sama aku?" 

Jika sudah aktif begitu, maka istri saya pasti langsung menarik tangan saya, meletakkan di atas perutnya. Biasanya, kami akan diam sejenak, menunggu gerakan-gerakan itu muncul. Selanjutnya, saat anak kami sudah bergerak dan kami merasakannya, kami tertawa ringan bersama. Saling bilang kalau kami berdua, Abi dan Umminya, sangat menyayanginya. Doa-doa tentang hal-hal yang baik lalu melantun indah, naik ke atas, mengetuk-ngetuk pintu langit. 

Anak kami, tidak hanya bergerak ketika kami hendak tidur saja. Ada dua waktu lagi ketika Ia aktif bergerak-gerak: Pagi hari ketika saya hendak berangkat ke sekolah untuk mengajar -sepertinya ia tahu bahwa ayahnya akan berangkat kerja seharian, minta di belai, dan ketika saya atau umminya sedang membaca Al-Qur'an. Kata istri saya, "Anak kita sedang ikut tilawah sama kita, Bi." 

Rabu, 19 November 2014

True Happiness

Syaiha | trainer nasional | Pengidap Polio | penulis inspiratif | novelis | guru | suami romantis | syaiful hadi | blogger | penulis produktif | guru hebat | inspirator nasional | http://syaiha.com/
SYAIHA - Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel saya kemarin petang. Isinya singkat saja –ya iyalah, namanya juga pesan singkat, begini: “Jika momen-momen bahagia dalam hidup anda terjadi karena hal-hal duniawi, maka ketahuilah bahwa anda belum merasakan true happiness, kebahagiaan yang sebenar-benarnya.”

Membaca pesan singkat itu, serasa ada puluhan pedang yang mencabik-cabik daging. Kalau kata anak-anak jaman sekarang, kena banget! Dalem!

Saya akui, sebagai manusia yang memiliki sifat kemanusiaannya, saya seringnya memang bahagia karena urusan-urusan duniawi saja. Dipuji-puji, saya senang. Dibilang hebat, saya besar kepala. Diagung-agungkan, saya melayang.

Ya Allah, jika selama ini saya bahagia karena itu semua, tentu saja saya memang belum merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Buktinya, saat tidak ada yang memuji-muji, saya suntuk seharian bingung akan melakukan apa. Saat tidak ada yang berkata, “Wah, Mas Syaiha hebat.”, saya kelabakan. Dan ketika tak ada yang mengagung-agungkan, saya sekarat.

Mengenaskan sekali ya!

Memang benar, ada kalanya saya merasa tenang dan damai ketika shalat atau membaca Al Qur’an. Pernah beberapa kali, ketika membaca Al Quran, saya merasa seperti ada di tepian danau yang luas dengan air jernih yang dingin. Tumbuh-tumbuhan hijau menghampar di pinggirannya, angin bertiup lembut menyentuh kulit. Itu benar-benar serasa menyenangkan. 

Selasa, 18 November 2014

Semoga Kartu Indonesia Menikah (KIM) Segera Diluncurkan

Syaiha | trainer nasional | Pengidap Polio | penulis inspiratif | novelis | guru | suami romantis | syaiful hadi | blogger | penulis produktif | guru hebat | inspirator nasional | http://syaiha.com/
SYAIHA - Dini hari, ketika aku sedang menikmati kopi, berselancar menggunakan ponsel, membuka beberapa link berita dan sosial media, dugaan saya benar, dunia maya sedang heboh dengan kenaikan BBM yang baru beberapa jam saja. Sambil menyeruput kopi hitam yang pahit –sepahit perasaan yang merasa dicuri (hak hidupnya), saya berseru pada istri:

“Ummi..” kataku, “Harga BBM naik nih, jadi 8500.”

Istri saya keluar dari kamar, duduk di sampingku dan bilang, “Beneran?”

“Iya..” kataku menyodorkan ponsel, “Nih, baca aja beritanya.”

Beberapa menit istri saya diam, membaca berita yang ada di ponsel. Lalu kemudian berkata, “Maunya apa sih pemerintah? Padahal beberapa waktu lalu, listrik dan air sudah naik. Eh, sekarang malah BBM.”

Aku mengangkat bahu, tidak tahu.

“Kalau BBM naik, pasti semua barang-barang akan naik. Beras naik. Bumbu-bumbu mahal. Apalagi ongkos angkot, pasti melambung.” Katanya bersungut-sungut sebal, “Padahal, belum sebulan bekerja, belum ada apa-apa yang terlihat nyata, eh sudah menaikkan BBM duluan!”

“Sudah..” kataku pelan, “Kita mah apa atuh, cuma sarok-sarok kuaci aja. Kita nggak bisa apa-apa kan?” 

Jangan Pernah Membenci Orang Tuamu

Jangan pernah membenci orang tua kau, teman. Sungguh. Jangan pernah membenci mereka. Karena apapun yang kau ketahui sekarang, tentang cinta dan kasih sayang mereka, itu bahkan tak sampai seperseratus dari rasa yang sesungguhnya ada untuk kau.

Syaiha | trainer nasional | Pengidap Polio | penulis inspiratif | novelis | guru | suami romantis | syaiful hadi | blogger | penulis produktif | guru hebat | inspirator nasional | http://syaiha.com/

SYAIHA - Kalimat yang senada dengan kalimat di atas, aku dapati pada novel Burliannya Tere Liye. Kata temanku, novel ini adalah novel Parenting yang baik, bacaan yang indah untuk orang-orang tua dalam mendidik anak. Aku, tidak terpengaruh dengan kalimat-kalimat promosi itu, karena bagiku, karya-karya Tere Liye memang menarik dinikmati, mengalir, dan tidak membosankan.

Ketika pada kalimat di atas, aku tercekat, diam sejenak, mengunyah-ngunyah makna yang terkandung di dalamnya. Kalimat itu berarti sangat dalam bagiku. Bahkan, hanya dengan kalimat singkat itu, pikiranku lalu mengelana pada kejadian beberapa puluh tahun yang lalu, sebuah kisah yang sudah tertinggal jauh di belakang. Kisah yang sudah usang.

Sore itu –saya lupa pastinya, hatiku mengkal. Pasalnya, selama di sekolahan, aku tidak bisa mengikuti banyak kegiatan. Aku tak bisa ikut lomba olah raga yang diadakan sekolah, tidak bisa berlari dan berkejaran. Entahlah, walau kejadian seperti ini sudah sering terjadi, tapi hari itu, saya merasa benar-benar tak ada gunanya. Lelaki pincang yang tidak bisa apa-apa.

Semakin parah, ketika ada seorang anak kecil, adik kelas, seenaknya berteriak, “Pincang.. pincang.. pincang..” ejeknya sambil menyanyikan kata itu berulang-ulang. Sungguh, suara itu bahkan lebih buruk dibandingkan suara kaset rusak sekalipun.

Aku bersungut-sungut sebal. Diam sejenak mencari kambing hitam, pokoknya harus ada yang disalahkan atas kepincanganku ini. Harus!

Apa kata Mamak dulu, saat ia menceritakannya perihal kepincanganku ini, “Kau sudah dua kali dibawa ke puskesmas untuk berobat, tapi panas di tubuhmu tak kunjung turun. Hingga saat di bawa ketiga kalinya ke Puskesmas, Bapak kau menyetujui agar kau disuntik. Sejak saat itulah, kaki kananmu menjadi seperti sekarang.”

Senin, 17 November 2014

Ingin Menjadi Penulis?

Syaiha | trainer nasional | Pengidap Polio | penulis inspiratif | novelis | guru | suami romantis | syaiful hadi | blogger | penulis produktif | guru hebat | inspirator nasional | http://syaiha.com/
SYAIHA - Ruangan itu luas. Ada tiga kipas angin berukuran besar melekat di langit-langitnya. Dan semuanya sedang berputar pelan, menciptakan angin untuk membuat ruangan tetap kondusif, agar semua yang duduk manis di dalamnya tidak kegerahan. Tak cukup sampai disitu, dua pintu di depan dan belakang ruangan juga dibuka, menjadikan sirkulasi ruangan ini berjalan baik tanpa hambatan.

Saya sempat diam sejenak di depan ruangan, beberapa detik saja, memperhatikan wajah-wajah peserta yang kelihatannya mulai mengantuk, lelah, dan bosan.

Gawat nih! Kataku dalam hati. Jika tidak bisa mengembalikan mood mereka, maka bisa berantakan semua materi yang ingin saya sampaikan. Sungguh, saat kau berusaha keras menyampaikan sesuatu kepada orang lain, saat kau cuap-cuap penuh semangat di depan mereka, tapi tak diperhatikan, sakitnya tuh disini –nunjuk jantung!

Saya menghela napas sejenak, bilang dalam hati lagi, “Insya Allah aku bisa!”

Saya mengambil microphone yang disediakan panitia, mengedarkan pandangan, dan berkata tegas, “Assalamu’alaikum warohmatullahi wabaraktuh!!”

Sebuah salam yang langsung disambut jawab oleh semua peserta yang hadir, seperti buaya lapar yang disodorin daging ayam berbau amis-amis sedap yang menggoda mereka.

“Disini..” kata saya, “Yang ingin menjadi penulis siapa?”, sebuah pertanyaan yang tak butuh jawaban. Pasalnya, ini adalah pelatihan menulis dari sebuah komunitas mahasiswa IPB yang doyan nulis, maka sudah bisa dipastikan bahwa yang hadir pasti ingin menjadi seorang penulis yang baik. 

Minggu, 16 November 2014

Tukiyem oh Tukiyem

Syaiha | trainer nasional | Pengidap Polio | penulis inspiratif | novelis | guru | suami romantis | syaiful hadi | blogger | penulis produktif | guru hebat | inspirator nasional | http://syaiha.com/
SYAIHA - Saya pernah bertanya kepada siswa-siswa saya, ketika sedang sharing tentang kepenulisan dan blog, “Apa yang ada di benak kalian ketika saya menyebutkan sebuah nama, TUKIYEM? –maaf jika ada kesamaan nama, maka tidak ada unsur kesengajaan.

Satu per satu, siswa saya lalu menjawab:

“Perempuan jaman dulu.”

“Ndeso.”

“Nenek-nenek.”

“Paling cuma tamatan SD atau sekolah rakyat.”

“Perempuan tua yang peyot.”

“Orang kampung.”

“Miskin.”

“Pintar!”

“Tidak berpendidikan.”

Dari sembilan siswa saya, ketika disebutkan nama TUKIYEM, hampir semua –hanya satu orang yang bilang pintar, sisanya mengatakan tentang sosok perempuan yang ndeso, tidak berpendidikan, dan terbelakang. Sama seperti yang saya pikirkan, jika nama itu disebutkan kepada saya, maka yang tergambar di kepala saya ya sebelas dua belas dengan yang mereka sebutkan.
Syaiha | Blogger | Teacher | Trainer | Disability | Penulis Inspiratif
Klik Like/Suka!

×
bloggerForum Blogger Indonesia