Rabu, 17 Desember 2014

Jika Suami Tidak Shalat

Syaiha | trainer nasional | Pengidap Polio | penulis inspiratif | novelis | guru | suami romantis | syaiful hadi | blogger | penulis produktif | guru hebat | inspirator nasional | http://syaiha.com/
SYAIHA - Sebut saja namanya Indah –nama yang sesuai dengan level kesabaran miliknya yang sudah teruji indah sekali. Seperti yang pernah guru saya sampaikan, bahwa sabar itu sungguh teramat pahit, tapi jika dilakukan dengan baik, maka hasilnya akan sangat manis, melebihi madu. Begitulah yang Mbak Indah lakukan. Ia berpeluk mesra kesabaran hingga memanen hasil yang tak terlupakan.

Mbak Indah adalah seorang putri dari pemuka Agama di bilangan Bengkulu. Ayahnya berkali-kali di undang ke beberapa daerah untuk mengisi ceramah agama di hari-hari besar Islam. Ayahnya dikenal banyak orang. Mbak Indah anak kedua dari empat bersaudara. Ia menjadi yang paling cantik di antara ketiga saudaranya –soale, tiga saudaranya lelaki semuanya. Mbak Indah bertubuh proporsional, tidak kurus, tidak gemuk, tidak pendek, juga tak terlalu tinggi. Wajahnya oval dan bersih dengan hidung yang menggemaskan.

“Alhamdulillah, suami Mbak sekarang sudah shalat lima waktu, sudah puasa sunnah, bahkan sudah berhenti merokok.” Katanya waktu itu, suatu sore ketika saya berkunjung ke rumahnya.

Saya takjub, dalam hati bergumam, “Subhanallah, hebat sekali.”

Pasalnya, saya tahu sekali tentang keluarga beliau. Jika boleh lancang, maka saya pasti bilang, “Mbak Indah sudah salah memilih menikah dengan suaminya yang sekarang.”

Mengapa saya menyimpulkan demikian?

Suaminya adalah seorang lelaki yang gagah, berpenampilan menarik, dan kata Mbak Indah, sebelum menikah, saat mereka masih pacaran, ia adalah seorang lelaki yang rajin sekali shalat lima waktu di masjid. Tapi, semua berubah ketika Mbak Indah sudah menikahinya. Jangankan shalat, bahkan puasa pun tidak. Dan kalau dinasihati, suaminya akan marah-marah. Bilang, “Sudah, kamu shalat saja. Mas lelah. Mas Capek seharian kerja.”

Berdasarkan cerita Mbak Indah inilah, maka saya lalu serampangan saja menyimpulkan, “Berarti shalat dan semua yang dilakukan sebelum menikah itu adalah usahanya buat menarik perhatian Mbak Indah. Maklum, Mbak Indah kan anak pemuka agama.”

Selasa, 16 Desember 2014

Anak itu Bodoh!

Syaiha | trainer nasional | Pengidap Polio | penulis inspiratif | novelis | guru | suami romantis | syaiful hadi | blogger | penulis produktif | guru hebat | inspirator nasional | http://syaiha.com/
SYAIHA - Beberapa kali, ketika sedang mengisi sebuah pelatihan kepada guru-guru, ada yang bertanya, “Pak, bagaimana caranya ya, agar ketika saya mengajar di kelas, suasana bisa tenang, tidak ribut?” atau “Saya itu udah mengajar semaksimal mungkin dan pelan-pelan sekali, tapi kok masih saja ada siswa yang tidak mengerti ya, Pak? Dan anehnya, siswa yang tidak mengerti itu ya itu-itu saja orangnya.”

Baik. Untuk pertanyaan pertama, kita semua harus paham masalahnya, bahwa ada seorang guru yang mengajar di kelas dan suasana tidak kondusif, menurutnya. Boleh jadi siswa-siswa ribut, berlarian, aktif sekali. Guru bingung mengatasi hal ini, ia kewalahan.

Kita harus paham, bahwa suasana yang ‘ribut’ bukan berarti pembelajaran yang optimal tidak bisa terwujud. Boleh jadi, dengan kondisi yang sedikit ribut itulah pemahaman yang baik akan materi yang disampaikan masuk ke dalam ingatan jangka panjang anak-anak. Karena bisa jadi, ributnya mereka adalah karena berdiskusi, saling bertanya akan sebuah hal, saling menjawab, saling mendebat, atau apalah. Maka jika suasana kelas sedang ‘ribut’, silakan identifikasi, mereka sedang meributkan apa?

Untuk pertanyaan kedua, kita harus memahami bahwa dalam sebuah kelas, kemampuan anak-anak tidak seragam, modal belajar mereka juga tak sama: ada yang hanya dengan mendengarkan saja, mereka sudah bisa mengerti. Ada yang baru bisa manggut-manggut kepalanya saat guru menjelaskan secara kontekstual, menghubung-hubungkan materi pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari mereka, ada juga yang harus dijelaskan dengan gerakan-gerakan-gerakan, dan sebagainya. Singkatnya, anak-anak memiliki karakteristik masing-masing, mereka istimewa, dan berbeda. Maka guru yang mengajar di kelas harus memahami itu. Ketika hal ini sudah dipahami, seorang guru dituntut untuk bisa mendesain pembelajaran yang mampu mengakomodir semua keistimewaan itu.

Senin, 15 Desember 2014

Tentang Perempuan

Syaiha | trainer nasional | Pengidap Polio | penulis inspiratif | novelis | guru | suami romantis | syaiful hadi | blogger | penulis produktif | guru hebat | inspirator nasional | http://syaiha.com/
SYAIHA - Sekali lagi, saya mengagumi seorang perempuan, seorang istri, seorang ibu. Dan malangnya, kekaguman yang dalam ini, justeru datang baru sekarang-sekarang, saat saya sudah menikah dan istri saya sedang mengandung anak pertama kami. Ia sudah 30 minggu. Kata dokter kemarin, saat istri saya USG terakhir, ia adalah seorang bayi lelaki –saya senang sekali, jadi nanti ada teman kalau saya nonton bola di rumah.

Ya, saya kagum sekali pada seorang perempuan, seorang istri, seorang ibu. Bagaimana bisa?

Kekaguman itu datang ketika setiap pagi, saya selalu mendapatkan kecupan hangat di pipi, di kening, atau di lengan, yang disertai ucapan hangat, “Mas, bangun. Sudah pagi.” Dia adalah istri saya, sudah bersih, wangi –karena sudah gosok gigi, dan rapi –sudah cuci muka dan sisiran. Awal-awal pernikahan, saya menganggap itu hal yang biasa-biasa saja. Tapi tidak dengan sekarang.

Bagaimana bisa istri saya bangun duluan? Padahal, ketika malam harinya, saat kami mencoba terlelap, maka istri saya selalu menjadi orang yang terakhir nyenyak. Biasanya, ia memandangi wajah saya yang amburadul ini, bilang beragam kalimat, harapan-harapan, dan kisah-kisah masa depan. Saya mendengarkan dengan baik, mengangguk-angguk sebentar, lalu terlelap –soalnya, seperti mendengarkan sebuah dongeng sih.

Saya tidak pernah tahu istri saya tidurnya jam berapa, yang pasti, tentu saja setelah saya tak sadarkan diri, lelap. Nah, bagaimana bisa istri saya bangun duluan? Seharusnya kan saya, soalnya saya yang tidur duluan toh? Tapi sekali lagi, saya tidak pernah bisa mendahului istri saya terjaga. Ketika saya tanya tentang hal ini, istri saya menjawab enteng, sambil tertawa nakal, “Mas kan tidurnya kayak kebo.” Setelahnya, saya pasti menjawil hidungnya yang menggemaskan itu. Dan kami pun tertawa bersama.

Kamis, 11 Desember 2014

Menikah Lagi atau Tidak?

Syaiha | trainer nasional | Pengidap Polio | penulis inspiratif | novelis | guru | suami romantis | syaiful hadi | blogger | penulis produktif | guru hebat | inspirator nasional | http://syaiha.com/
SYAIHA - Saya pernah berpikir, “Perempuan itu hebat sekali. Sebagai seorang istri, ia bisa mengerjakan banyak hal dalam satu waktu. Bayangkan saja, ia bisa memasak sambil mengasuh anak dan membereskan rumah sekaligus dengan baik. Sebagai seorang ibu, perempuan pun bisa berperan sebagai ayah dalam satu waktu. Lihatlah di luar sana, berapa banyak perempuan yang bisa membesarkan anaknya sendiri karena suami meninggal atau pergi.”

Sebaliknya, saya jarang sekali –kalau tidak ingin mengatakan tak pernah, melihat ada lelaki yang hidup sendiri dan mampu membesarkan anak-anaknya. Jika istrinya meninggal, suami biasanya menikah lagi. Ia membutuhkan seorang istri yang bisa mengurusi rumah dan anak-anak. Bahkan, boleh jadi, kuburan istri belum kering pun ia sudah memikirkan untuk mencari pengganti. Melirik-lirik kesana-kemari, mencari-cari tambatan hati.

Jelas saja, semua yang saya tuliskan di atas tidak berlaku umum. Karena boleh jadi, satu dua orang perempuan yang ditinggal mati suaminya, mungkin ada yang menikah lagi, mencari pengganti. Hanya saja, jika dihitung dengan jari, maka rasionya pasti jauh lebih sedikit dibandingkan yang memilih hidup sendiri, menjadi single parent demi buah hati.

Apa kata seorang ibu-ibu yang saya temui di Bandara dulu? “Saya single parent, Mas.”

Saya mengernyitkan dahi, bertanya lagi, “Kenapa tidak menikah lagi, Bu?”

“Nggak kepikiran kesana, Mas. Yang ada di kepala saya adalah anak-anak. Bagaimana membesarkan mereka dengan baik dan mendidik mereka sekuat tenaga.”

Saya diam, memperhatikan.

“Lagian,” katanya lagi, “Kalau saya menikah lagi, belum tentu ia bisa menerima anak-anak saya. Belum tentu juga kami bahagia. Dan yang paling penting, saya khawatir anak-anak saya tak bisa menerimanya. Intinya, anak-anak saya, adalah hidup saya sekarang.”

Rabu, 10 Desember 2014

Terimakasih Bapak

Syaiha | trainer nasional | Pengidap Polio | penulis inspiratif | novelis | guru | suami romantis | syaiful hadi | blogger | penulis produktif | guru hebat | inspirator nasional | http://syaiha.com/
SYAIHA - Waktu itu, senja baru saja akan datang. Saya dan Bapak (almarhum, semoga beliau bahagia di alam kubur sekarang), sedang duduk menikmati secangkir teh dan pisang goreng buatan Mamak. Pisang ini berasal dari kebun belakang rumah yang tak seberapa luas. Saya ingat sekali, ketika menanamnya dulu, Bapak bilang, “Tanamlah kebaikan, karena nanti, beberapa tahun lalu, kau pasti akan memetik hasilnya. Sama seperti pohon pisang ini, jika umur kita panjang, insya Allah kita akan merasakan buahnya yang manis.”

“Dan kau tahu, Syaiha..” Bapak hendak bertanya, “Dari pohon pisang ini, kita banyak belajar tentang kehidupan: jangan pernah berhenti di tengah jalan. Benar, bahwa perjuangan itu berat, panjang, dan berdarah-darah. Tapi, jangan pernah berhenti. Sama seperti pohon pisang ini. Ia tidak akan pernah mati hingga ia menghasilkan buah. Mau kau tebang berkali-kali, ia akan tumbuh lagi, terus-menerus begitu hingga ia berbuah.”

Aku manggut-manggut, dulu.

“Setelah menghasilkan buah, Ia lalu bertunas. Memunculkan pohon pisang yang baru.”

Senja begitu hangat, beberapa berkas sinar lembut sekali menyentuh kulit kami. Beberapa kendaraan bermotor lewat di jalan kampung, selalu memelankan lajunya ketika lewat di depan rumah, menoleh ke arah Bapak, dan melambaikan tangan sambil mengangguk hormat. Mereka adalah orang-orang yang baru kembali dari kebun, pulang ke rumah masing-masing setelah seharian bekerja.

“Jadi, bagaimana kuliahmu?” tanya Bapak sambil menyeruput teh hangatnya.

“Alhamdulillah lancar, Pak.” Jawabku singkat, “Nilai semester satu juga baru saja keluar, Alhamdulillah IPK-nya 4.00. Semuanya dapat A.”

Selasa, 09 Desember 2014

Kebahagiaan Seorang Istri itu..

SYAIHA - Saya tidak tahu, apalagi mengerti, akan sikap mamak saya dulu, ketika saya masih kecil. Hampir di setiap jam makan, ia selalu menjadi orang terakhir yang mengambil makanan setelah Bapak dan kami, anak-anaknya. Mamak selalu mengambilkan piring untuk kami semua, mengisinya dengan nasi, lalu menyodorkan lauk-pauk. Bapak menjadi orang pertama yang mengambil lauk-pauk, mendapat bagian terenak. Disusul dengan kami, anak-anaknya. Kami berebutan, saling dulu-duluan demi potongan lauk-pauk yang lezat.

Ketika sudah memastikan piring Bapak dan kami penuh makanan, barulah Mamak mengambil piring, mengisinya dengan nasi, dan lauk-pauk sisa. Bahkan, tak jarang lauk-pauk sudah habis, Mamak hanya mendapatkan sayur yang tinggal sejumput saja. Selalu begitu.

Selanjutnya, ketika sudah selesai makan, Mamak menjadi orang pertama yang menunggu di kamar mandi, menunggu piring-piring kotor kami, dan siap mencucinya. Sigap sekali.

Dulu, saya tidak pernah memikirkan hal kecil ini. Yang saya tahu adalah, ketika makan, Mamak selalu menyediakan masakan yang lezat dan nikmat sekali. Mamak selalu tersenyum bahagia melihat kami, berebutan makanan –menandakan bahwa makanan itu enak, bahagia ketika kami makan dengan lahap, dan kenyang. Sedangkan Mamak, tetap bersuka ria dengan lauk-pauk sisa.

Padahal, secara rasional, seharusnya Mamaklah yang mendapatkan potongan terenak lauk-pauk. Karena Mamak yang memasak, dan nanti, ketika jam makan selesai, Mamak pula yang akan membereskan semua sisa dan piring-piring kotor di meja. Mamak yang paling berjasa di  meja makan, maka seharusnya Mamak tidak hanya mendapatkan sisa-sisa.

Potongan-potongan kejadian tentang hal ini, sudah sejak beberapa bulan lalu berkelebat. Pasalnya, Istri saya pun melakukan hal yang sama –seperti Mamak. Setiap jam makan, ia selalu mengambilkan piring dan mengisinya dengan nasi, lalu bilang, “Nasinya seberapa banyak, Mas?” sambil menyodorkan piring yang sudah diisi nasi. Setelah itu, ia menyodorkan lauk-pauk yang telah disediakan, mempersilakan saya duluan mengambil potongan terbaik. Padahal, saya tidak pernah meminta demikian.

Senin, 08 Desember 2014

Aku Menerima Pinanganmu Karena Status Facebookmu Bagus-Bagus

SYAIHA - “Waktu Mas ajak nikah, kok sayang mau nerima, Mas?” saya sempat bertanya seperti ini ke istri, beberapa bulan setelah kami menikah, “Padahal kan, kita baru seminggu kenal. Emang nggak takut salah pilih?”

Ya, seperti yang pernah saya tulis, bahwa saya mengucapkan kalimat ini, “Mau kah kau menikah denganku” kepada istri saya, tepat satu minggu setelah kami kenal, 1 desember 2013. Dan jawaban istri saya waktu itu adalah, “Berikan saya waktu untuk memikirkannya.”

Karena penasaran, beberapa kali saya sempat bertanya, apa alasannya hingga Ia berani menerima saya? Padahal kan saya lelaki yang banyak kekurangan: berkulir gelap dengan wajah berlubang-lubang bekas jerawat, jauh sekali dari kata tampan, dan masih banyak lagi.

“Mas tahu..” istri saya menjelaskan, “Setelah mas mengajakku menikah, langkah pertama yang aku lakukan tentu saja shalat istikharah, meminta petunjuk dari Allah swt. Bagaimanapun, yang tahu baik dan buruknya hanya DIA, tuhan semesta alam. Aku istikharah, abah juga demikian.”

Saya mendengarkan penjelasan istri saya.

“Selanjutnya..” katanya lagi, “Yang aku lakukan adalah stalkingin –mematai-matai, melihat-lihat, atau apalah namanya; semua akun sosial medianya Mas. Facebook, twitter, dan blog.”

“Jadi, Sayang ngobrak-ngabrik facebooknya mas?”

Sambil cengengesan, istri saya mengangguk. “Untung semua isinya baik-baik. Nggak neko-neko. Dan semua tulisannya bijak-bijak, romantis-romantis, dan dewasa. Nggak kayak anak-anak alay yang nggak jelas.”
Syaiha | Blogger | Teacher | Trainer | Disability | Penulis Inspiratif
Klik Like/Suka!

×
bloggerForum Blogger Indonesia