Jumat, 31 Oktober 2014

Suami Bukan Pemalas dan Istri Bukan Pelayan yang Tertindas

Syaiha | trainer nasional | Pengidap Polio | penulis inspiratif | novelis | guru | suami romantis | syaiful hadi | blogger | penulis produktif | guru hebat | inspirator nasional | http://syaiha.com/
SYAIHA - Pada zaman dahulu kala, saat kehidupan di dunia masih primitif dan belum secanggih sekarang, pria dan wanita hidup bersama dalam keharmonisan. Mereka berkeluarga dan berkembang, bertambah banyak, dan menyenangkan.

Pembagian tugas mereka jelas, si pria, sebagai lelaki dan pemimpin keluarga, pergi menjelajahi tempat-tempat yang berbahaya, mereka berburu mencari makanan untuk keluarganya yang tinggal di gua-gua. Pria juga bertugas menjadi pelindung keluarganya dari binatang buas atau musuh yang bisa datang kapan saja. untuk memenuhi semua tugasnya itu, seorang pria pada masa dulu harus mengembangkan kemampuan navigasinya yang baik agar bisa berburu di tempat yang jauh dan kembali tanpa tersesat. Seorang pria juga memiliki keterampilan yang mendukung untuk berburu, semisal memanah, melempar tombak, melompat dan berlari kencang, serta menerjang kuat.

Sedangkan seorang perempuan pada masa itu akan sangat berharga karena suaminya berburu mati-matian demi diri dan keluarganya. Keberhasilan seorang suami pada masa itu adalah ketika ia bisa membawa hewan buruan ke rumah mereka, sedangkan suami akan merasa berharga karena pengabdian seorang istrinya.

Kamis, 30 Oktober 2014

Agar Siswa Pede Berbicara Bahasa Inggris

Syaiha | trainer nasional | Pengidap Polio | penulis inspiratif | novelis | guru | suami romantis | syaiful hadi | blogger | penulis produktif | guru hebat | inspirator nasional http://syaiha.com/

SYAIHA - Kita semua paham bahwa keterampilan dalam berbahasa itu ada empat, yaitu: membaca, mendengar (menyimak), menulis, dan berbicara. Kemampuan yang tersebut terakhir, berbicara, terutama dalam pelajaran Bahasa Inggris sering kali terlupakan. Ya, anak-anak kita sekarang, --atau mungkin sudah sejak dulu, sebagian besar kurang mampu menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-harinya. 

Ini wajar, karena di sekolahnya terkadang bahasa Inggris hanya diajarkan sebagai ilmu pengetahuan saja, hanya dijadikan wawasan tanpa praktik yang menyeluruh dan terus-menerus. Jika ditanya ke mereka tentang tenses atau aturan tata bahasa yang lain mungkin mumpuni, tapi tidak untuk dipraktikkan dalam kehidupan. 

Sering kita dengar tentang siswa yang pintar sekali, nilai Bahasa Inggrisnya luar biasa tinggi. Tapi, ketika dihadapkan dengan orang bule asli, ia hanya bisa diam dan tak berani beerbicara. Takut salah. Tidak terbiasa. Atau grogi. Nah, karena hal inilah maka sekolah saya, SMA SMART 1 Bogor selalu rutin melaksanakan video conference dengan orang-orang Indonesia yang tinggal di luar negeri.

Orang-orang itu, yang terkumpul dalam sebuah gerakan Diaspora E-Class adalah mereka yang sudah lama tinggal di luar negeri: Canada, Australia, USA, Inggris, Toronto, dan sebagainya. Sebagian mereka adalah orang yang tumbuh dan besar disana, sehingga bahasa Inggris mereka benar-benar sudah fasih dan lancar sekali. 

Berikut beberapa poto yang sudah kami lakukan: 

Ketika Siswa-siswa Betah di Sekolah

SYAIHA - Saya sempat melirik jam di ponsel saya, pukul 14.19 menit. Ini sudah lewat 4 menit dari jam pulang, tapi ketika saya alihkan pandangan ke siswa-siswa saya, tak ada raut wajah ingin segera pulang, mereka masih betah di sekolah, mengerjakan beberapa projek yang belum kelar mereka kerjakan.

“Teman-teman,” kata saya, --kami memang membiasakan memanggil siswa kami dengan sapaan teman-teman, “Waktunya sudah habis. Silakan dirapikan buku dan alat tulisnya.”

“Sudah, jika projeknya belum kelar,” Miss Triya menimpali, “Besok kita lanjutkan lagi. Sekarang mari siap-siap untuk pulang.”

“Bentar lagi ya, Miss. Nanggung nih.”

Ini adalah sebuah hal yang tak biasa menurut saya: anak-anak merasa betah dan ingin berlama-lama di sekolah. Dan kejadian ini, kejadian yang terjadi kemarin, Rabu 29 Oktober 2014, bukanlah kejadian pertama saat anak-anak diingatkan untuk merapikan buku dan alat tulisnya untuk pulang. Kemarin adalah kejadian yang kesekian. 

Rabu, 29 Oktober 2014

Obrolan Anak SMP Jaman Sekarang

SYAIHA - Suatu pagi, saat saya sedang di angkot hendak berangkat ke sekolah tempat saya mengajar, saya mencuri dengar percakapan yang menggelitiki gendang telinga saya. Geli sekali. Bahkan saking gelinya, saya menjadi eneg untuk menyimak lebih jauh.

Saya sempat memperhatikan dengan kedua ujung mata saya, mereka duduk paling pojok, di belakang. Mereka tiga remaja putri dengan seragam putih biru dibadannya. Salah satu dari mereka mengenakan jilbab, sedangkan dua yang lain tidak.

“Kemarin kenapa sih kelas tujuh B rame banget?” kata salah seorang yang tidak memakai jilbab. Rambutnya terurai dan terbang-terbang karena angin yang masuk ke angkot ini cukup kencang.

“Biasa.” kata yang berkerudung, “Kak Dito masuk ke kelas gue. Dan gue selalu jadi bahan ledekan. Gue kan malu, coba. Mana semuanya cie ciein gue lagi.”

“Emang temen-temen sekelas lu tau tentang perasaan Lu ke Kak Dito?”

Si remaja yang berkerudung mengangkat bahunya. Entahlah.

“Kak Dito emang cool sih,” kata remaja yang rambutnya tergerai karena angin, “Di kelas gue juga ada beberapa temen cewek yang demen banget sama Kak Dito. Lu bayangin aja, dia ganteng, pinter, dan baik lagi. Lengkap deh!”

Si remaja berkerudung mendelik, “Lu suka sama Kak Dito juga ya?” 

Selasa, 28 Oktober 2014

Mas Syaiha, Bahagia itu Apa Sih?

SYAIHA - Malam minggu kemarin, saya berkesempatan mengisi sebuah pelatihan motivasi pada salah satu sekolah di bilangan Bogor. Sebuah pelatihan motivasi yang terbilang mendadak. Ya, karena saya baru dihubungi sehari sebelumnya, hari Jum’at siang ketika saya sedang di angkot.

“Mas Syaiha, bisa mengisi pelatihan hari Sabtu besok nggak?”

“Jam berapa?” tanyaku, “Soalnya kalau siang atau sore saya nggak bisa. Sudah ada agenda. Tapi kalau malam insya Allah bisa.”

Tidak ada jawaban hingga keesokan harinya. Hingga jam sembilan pagi sebuah pesan singkat masuk ke ponsel saya.

“Mas, mengingatkan. Nanti malam jadi ngisi ya!”

Gubrak!! Saya pikir nggak jadi!

Malamnya, saya pun tampil ala kadarnya. Beruntung ada beberapa slide yang pernah saya buat untuk beberapa pelatihan yang pernah saya isi. Saya memilih menyampaikan beberapa pengalaman hidup saya sebagai seorang difabel saja. Tujuannya, semoga mereka bisa terinspirasi dan berbuat lebih dari yang sudah saya lakukan. 

Putus Aja Deh!

SYAIHA - “To!! Gue serius nih..” rengek Nia meminta perhatian Suripto. Yang diminta perhatian malah asik saja menghabiskan ketoprak super pedas pesanannya. Sedari tadi, Ripto, --begitu ia biasa dipanggil teman-temannya, sibuk mengelap keringat yang bercucuran bak air terjun Niagara dilanda hujan deras beberapa jam. Deras!

Ripto tidak memperhatikan curhatan Nia yang sudah panjang kali lebar.

“Lu cerita apa tadi?” tanya Ripto tanpa perlu meminta maaf dan memasang wajah tak bersalah.

“Iiiih, jadi Lu nggak ndengerin gue dari tadi?” Nia melotot, dua bola matanya hampir saja melompat keluar, berhamburan.

Setelah meneguk jus mangga yang dingin dan manis, Ripto berkata, “Gue denger kok, sedikit. Lu cerita tentang hubungan Lu sama Dimas, kan?”

Nia mengangguk.

“Kenapa lagi sama Dimas?”

“Nggak tau lah, To.” Kata Nia lirih. Jika boleh jujur, hubungan Nia dan Dimas sudah seperti orang sekarat karena kanker stadium empat. Nyaris mati tak selamat. 

Senin, 27 Oktober 2014

Mas Syaiha, Pernahkah Merasa Minder dengan Kondisi Kakinya?

SYAIHA - Ketika sedang mengisi pelatihan di sebuah sekolah, seorang perempuan, tetiba bertanya kepada saya, “Mas, Syaiha,” katanya, “Apakah selama menjalani kehidupan sebagai seseorang yang ‘istimewa’, mas Syaiha pernah jatuh, terpuruk, atau minder nggak?”

Aku diam.

“Lalu, ketika masa-masa seperti menghampiri, Mas Syaiha akan melakukan apa? Atau mengadu ke siapa?”

Ketika suasana hening sejenak setelah pertanyaan itu terlontar, saya lalu bilang “Bohong!!” begitu jawabku dengan suara lantang, “Bohong jika saya berkata bahwa saya tidak pernah merasa minder! Bohong jika saya berkata ke teman-teman sekalian bahwa saya adalah manusia super yang tidak pernah jatuh dan terpuruk. Itu bohong!!”

“Saya adalah manusia biasa seperti teman-teman,” saya melanjutkan, “Saya pernah merasa minder, pernah jatuh, dan pernah terpuruk. Itu manusiawi.” 

“Yang tidak manusiawi adalah ketika kita justeru terus-menerus terpuruk dan tidak bangkit-bangkit lagi. Itu masalah namanya.” 
Syaiha | Blogger | Teacher | Trainer | Disability | Penulis Inspiratif
Klik Like/Suka!

×
bloggerForum Blogger Indonesia