Senin, 26 Januari 2015

Bagaimana Seorang Lelaki Memilih Perempuannya

SYAIHA - Kalian tahu bagaimana seorang lelaki memutuskan bahwa si A adalah pasangan yang sesuai untuknya? Apakah juga mengerti apa yang menjadi titik berat lelaki memilih si A menjadi istrinya?

Ini sebuah rahasia penting yang akan saya jelaskan. Penjelasan ini berdasarkan pengalaman pribadi dan orang lain. Beberapa teman pernah menceritakan tentang kisahnya menemukan pasangan hidup, bagaimana dia memutuskan memilih, dan menikah dengan istrinya yang sekarang. Saya pun beberapa kali membaca buku –atau artikel, yang membahas tentang kecenderungan seorang lelaki, sehingga kemudian saya mengambil kesimpulan dangkal ini.

Bagaimana seorang lelaki memutuskan si A adalah perempuan yang tepat untuk mendampingi hidupnya? Apakah yang menjadi titik berat pertimbangannya?

Pertama, ada yang bilang bahwa lelaki memiliki kelemahan di matanya. Ia adalah makhluk visual dan memiliki imajinasi yang tak terbatas. Jika tak percaya, sodorkan saja poto seorang perempuan jelita kepadanya, saya yakin sekali, bahwa yang spontan keluar dalam benaknya adalah kekaguman. “Cantik sekali dia.” atau “Subhanallah, dia cantik sekali.”

Juga ketika dihadapkan pada perempuan berbaju ketat –perempuan yang memamerkan lekuk tubuhnya, otak lelaki pasti akan berimajinasi liar. Ini lumrah, normal, alias wajar. Jadi, saya tidak sepakat jika ada perempuan yang bilang, “Yang salah itu bukan pakaian kami. Otak kalian aja yang ngeres. Isinya mesum semua!”

Hellooo.. otak kami memang sudah diinstall sedemikian rupa. Mau mesum atau tidak, jika kalian berpakaian tak senonoh di depan mata kami, ya  pikiran kami menjadi liar. Yang jadi masalah berikutnya adalah, ada orang-orang yang melanjutkan imajinasi mereka, memperkosa (maaf), menggoda, atau apa saja. Tapi banyak juga yang tak berbuat apa-apa. Hanya menundukkan kepala dan berdoa, “Semoga kalian diberi hidayah dan menjadi lebih baik.”

Minggu, 25 Januari 2015

Jangan Katakan Ini pada Istrimu

SYAIHA - Datanglah seorang lelaki pada sahabat karibnya yang sedang duduk di kedai kopi. Malam itu, warung kopi sedang sepi, tidak ada siapa-siapa selain dua sahabat karib tadi dan pemilik kedai. Sahabat yang baru datang dengan langkah lebar-lebar ini bernama Ucok. Sedangkan temannya yang damai sekali dengan segelas kopi panasnya bernama Joni.

“Celaka!” Ujar Ucok bingung. Wajahnya benar-benar semrawut. Bahkan, jika kau pernah melihat kertas pembungkus gorengan yang berminyak dan kumal, kusut karena sudah diremas-remas dan terbuang, wajah Ucok malam itu lebih mengerikan lagi. Ucok melipat wajahnya lebih dalam, Ia sedang ada masalah.

“Oi.. Cok!” Joni berteriak, “Apa pula yang celaka? Kau sudah macam orang di tagih utang sama debt collector saja!” Kata Joni lagi dengan logat Medannya yang kental.

“Lebih parah dari itu, Jon!” Ucok menghempaskan tubuhnya di kursi kayu panjang, duduk di samping Joni. “Alamak jang, bodoh kali pun awak nih!” Ucok bersungut-sungut sebal pada dirinya sendiri. Ia seperti sedang menyesali perbuatan yang baru saja dilakukan.

“Sebenarnya ada apa, Cok? Hebok kali kau!”

“Istriku marah-marah, Jon!”

Demi mendengar kalimat terakhir Ucok, Joni tergelak. Bahkan, kopi hangat yang baru saja Ia sesap tersembur keluar, muncrat. Baginya, ini sungguh menggelikan, “Bagaimana mungkin orang seperti kau –berbadan besar, bertato, dan sangar, heboh setengah mati karena dimarahi istri?”

Jumat, 23 Januari 2015

Fenomena Surplus Akhwat

SYAIHA - Beberapa hari yang lalu, saya sempat melirik sebuah majalah Islami di masjid ketika sedang berisitrahat selepas shalat Dhuhur. Lirikan memang terjadi karena ada yang seksi, menggoda hati, dan sepertinya menarik sekali. Ya, apalagi kalau bukan tulisan besar-besar di halaman sampulnya, judul artikel utama mereka, tentang “Fenomena Surplus Akhwat.”

Membaca judul besar itu, otak saya lalu bekerja seperti komputer super canggih, mendesing. Lalu sejurus kemudian, percakapan dengan seorang kawan beberapa tahun silam muncul ke permukaan. Ia seperti sebatang kayu yang sebelumnya tersangkut di dasar danau, lalu lepas dan mengapung. Terlihat jelas, gamblang sekali.

“Kakak ane kan Murobiah, Syaiha.” Ia dulu bilang. “Dan Lu tau nggak,” katanya lagi mendekatkan wajahnya ke telinga saya, “Banyak loh biodata binaannya yang minta dicarikan jodoh. Lu mau nggak?”

“Kata kakak gue nih ya,” teman saya berujar lagi, “mencarikan jodoh untuk adik-adik binaannya ternyata tidak segampang membalikkan telapak tangan. Bahkan belum ada yang berhasil satupun.” –Ya iyalah, mencari jodoh itu tidak gampang. Itu sama saja mencari orang yang mau menemani kita hingga akhir hayat, membersamai dalam suka dan duka. Tentu saja sukar mencarinya.

Dulu, saya hanya menganggap semua ucapan teman itu sebagai bualan pelepas penat, sebagai gurauan penghangat malam yang terkadang dingin mencengkeram. Tapi sejak beberapa hari lalu, sejak membaca judul besar di majalah lama yang teronggok di masjid itu, boleh jadi ucapan teman saya beberapa tahun yang lewat ada benarnya.

Saya membuka lembar demi lembar majalah lawas di masjid, membaca laporan utama mereka, “Fenomena Surplus Akhwat: Penyebab dan Cara Mengatasinya!”

Dan sampai pada kalimat ini, “Majelis sehati Daarut Tauhid, sebuah lembaga semacam biro jodoh di bawah naungan Daarut Tauhid, Jakarta, mengaku telah menerima pendaftaran 400 perempuan dan hanya 50 laki-laki siap menikah –sebuah perbandingan yang timpang, satu berbanding delapan. Sedangkan di lembaga Biro Jodoh lain, mereka mengaku sudah ribuan perempuan mendaftar untuk dicarikan jodohnya.”

Kamis, 22 Januari 2015

Ketika Beda Harokah Menghalangi Pernikahan

SYAIHA - Beberapa waktu lalu, saya sempat bertemu dengan sahabat saya. Ia seorang perempuan yang baik sekali agamanya, berwajah ‘lumayan’, juga pada beberapa kesempatan, ketika saya secara tak sengaja mendengarnya tilawahnya, saya bisa menilai bahwa bacaan Qurannya tartil, baik, dan mengesankan.

Kami bertemu tak sengaja di warung bakso ketika saya sedang menikmati bulatan-bulatan yang lezat sebesar bola pingpong. Sedangkan Ia baru saja datang, memesan semangkuk bakso, lalu duduk di kursi yang tak jauh dari tempat saya duduk. Saya menegurnya, Ia balas menyapa. Lalu bercengkerama lah kami, layaknya dua sahabat yang lama tak bersua.

Kami bercerita tentang banyak hal, tentang kesibukan masing-masing, tentang masa-masa kuliah dulu ketika kami satu kelembagaan, hingga tentang beberapa teman yang lama tak kami temui. Hingga pada titik tertentu, akhirnya Ia bilang, “Syaiha, selamat ya atas pernikahan dan kehamilan istrinya. Semoga calon anak kalian sehat, lahir dengan selamat, dan menjadi generasi yang bisa membanggakan bangsa dan agama.”

Saya mengangguk, bilang “Aamiin. Terimakasih doanya.”

Lalu, ketika saya bertanya tentang apakah Ia sudah ta’aruf atau belum, Ia menjawab pelan, “Beberapa minggu lalu saya sudah ta’aruf, Syaiha.”

“Terus?”

“Saya dan Ikhwannya sih sudah oke. Tapi ketika hal ini saya sampaikan ke Ustadzah saya, proses itu tidak disetujui.”

“Alasannya?”

“Beda harokah.” 

Rabu, 21 Januari 2015

Ketika Suami Suka Marah-Marah

SYAIHA - “Selamat siang, Bang Syaiha.” Sapa seorang perempuan di akun Facebook saya. Jika dilihat poto profil facebooknya, aku menaksir Ia berusia tiga puluhan. “Perkenalkan nama saya Melati –tentu bukan nama sebenarnya.

Melati lalu melanjutkan, “Awalnya, saya tidak ingin menceritakan masalah ini kepada siapapun, tapi karena beberapa hari ini saya membaca tulisan Bang Syaiha yang dishare teman, saya jadi berkeinginan membagikan masalah yang sedang saya hadapi juga. Siapa tahu, masukan dan pendapat dari Bang Syaiha bisa memberikan saya sedikit pencerahan. Juga bisa dijadikan pelajaran buat pasangan suami istri yang lain.”

“Begini, Bang.” Katanya, “Belakangan ini, suami saya sering sekali marah-marah karena saya membantu ibu saya –mengirimi uang tiap bulan. Padahal, itu uang saya sendiri, hasil keringat dan kerja saya tiap hari. Tidak pernah sekalipun saya mengirimi uang ke orang tua menggunakan harta suami. Jikapun harus menggunakan penghasilan suami, saya pasti meminta ijin terlebih dahulu padanya.”

“Yang jadi pertanyaan saya adalah, apakah salah jika saya membantu orang tua saya? Jika tidak salah, mengapa suami saya marah-marah?”

Nah, ini adalah pertanyaan yang berbeda dari biasanya. Jika beberapa minggu sebelumnya, pertanyaan-pertanyaan yang datang seputar masalah pra nikah, ini justru masalah yang hadir setelah pernikahan. Baiklah, walau saya belum pernah mengalami masalah seperti ini, saya akan mencoba menjawab sebisanya. Saya yakin, jawaban ini pasti dangkal dan masih perlu koreksi disana-sini. Jadi monggo dikritisi saja.

Selasa, 20 Januari 2015

Gagal Menikah

SYAIHA - Sejak rajin menulis tentang pernikahan dan seluk beluknya, hampir tiap hari kotak masuk Fan Page, akun facebook, atau blackberry mesangger saya kedatangan beberapa pesan dari orang-orang yang katanya sering membaca tulisan-tulisan ringan saya disana. Pesan itu bermacam-macam. Dari sekedar menyapa dan berkenalan, berterimakasih dan mengajak berkawan, hingga menceritakan beberapa permasalahan.

Dan salah satu pesan itu masuk kemarin siang, berasal dari seorang perempuan bernama Indah –bukan nama sebenarnya. Ia seperti kebanyakan pembaca yang lain, merasa mendapat banyak ilmu dari tulisan acak kadut saya, bilang terimakasih dan mengajak berkawan, akhirnya menceritakan masalah yang sedang dialaminya. Katanya, “Harapan saya, semoga Bang Syaiha bisa memberi sedikit nasihat atau masukan yang berguna.”

Begini masalahnya..

“Bismillah.” Katanya membuka pesan itu, “Maaf mengganggu waktu Bang Syaiha. Perkenalkan, nama ana Indah. Ana sering membaca tulisan-tulisan Bang Syaiha di Facebook. Dan seperti kebanyakan orang-orang, ana pun mendapatkan banyak ilmu disana.”

Sampai titik ini, kepala saya serasa mengembang besar. Senang karena pujian. Semoga Allah mengampuni saya.

“Bang Syaiha,” katanya lagi, “Sebenarnya pun ada yang ingin sekali ana ceritakan ke Bang Syaiha. Ini masalah yang sedang ana hadapi. Begini, Bang, beberapa bulan yang lalu, ada Ikhwan yang ngajak ana serius untuk berumah tangga. Demi membuktikan keseriusannya, dia juga sempat berkunjung ke rumah ana. Tapi masih datang sendiri, nggak sama orang tuanya. Dia sempat bilang keseriusannya ke orang tua ana, ke ibu.”

Senin, 19 Januari 2015

Bagaimana Menciptakan Tulisan yang Mengalir dan Indah

SYAIHA - “Bang Syaiha,” sapa seorang kawan lama di pesan Fan Page saya beberapa hari lalu, “Saya perhatikan, tulisan-tulisan ente udah keren-keren euy di Fan Page. Walau ane jarang komen, diem-diem ane baca juga beberapa tulisan ente disana. Kata-katanya itu loh, mengalir, enak dibaca, nggak berat, dan berwawasan. Salut.”

“Nah, karena sering baca tulisan ente, ane kok jadi kepikiran buat mulai menulis juga ya. Soalnya beberapa kali ada ide-ide menarik yang menurut ane bagus buat disampaikan ke banyak orang.”

“Sayangnya, setiap kali ane nulis, pasti sering mentok di tengah jalan. Ada juga beberapa tulisan yang kelar, ide-ide di kepala udah ane tulis habis. Tapi kok pas ane baca ulang, nggak menarik, kurang greget, dan nggak oke lah. Padahal, sebelum dituliskan, ane tuh udah tahu loh apa-apa aja yang akan dituangkan, bahkan udah tahu sistematika yang pas buat merangkai kata demi katanya. Intinya, pas masih di kepala, ide itu brilian banget. Bagus. Eh, pas udah ditulis kok malah kayaknya garing.”

“Kira-kira, ada tips-tips buat ane nggak, Bang, biar tulisan-tulisan ane bisa bagus?”

Jujur saja, saya agak terkejut ketika mendapatkan pesan ini di kotak masuk Fan Page saya. Pasalnya, saya mengenal jelas siapa pengirimya. Dia adalah teman kuliah, satu kelas selama tiga tahun di IPB, dan tentu saja cerdas –maka wajar saja jika banyak ide brilian yang ingin Ia tuangkan. Saya tidak menyangka, bahwa beliau diam-diam punya keinginan menulis. Karena sejak kuliah, saya tak melihat Ia tertarik di dunia ini, dunia kepenulisan.

Baiklah, dengan keterbatasan ilmu dan pengalaman, saya akan sedikit mengulas tentang bagaimana menciptakan tulisan yang menarik dan mengalir? Harapannya, semoga semakin banyak orang-orang yang tergerak untuk menulis. Agar ide-ide mereka yang hebat-hebat itu bisa disajikan dalam bentuk tulisan dan bisa dinikmati oleh jutaan orang.
Syaiha | Blogger | Teacher | Trainer | Disability | Penulis Inspiratif
Klik Like/Suka!

×
bloggerForum Blogger Indonesia