Rabu, 26 November 2014

Cukup Enam Tahun Saja Menderita di Sekolah Dasar

SYAIHA - Siang kemarin, dua hari yang lalu, ketika sedang istirahat di sekolah, seorang siswa saya tetiba berujar, “Beruntung ya kita sekolah di SMA SMART 1 Bogor, guru-gurunya keren euy.”

Saya yang duduk tak jauh dari kerumunan mereka, pura-pura tak mendengar, terus menyibukkan diri dengan tugas administrasi. Kau tahu teman, administrasi adalah pekerjaan yang melelahkan bagi seorang guru. Karena administrasi inilah, tugas guru itu menjadi berat, pekerjaannya dua puluh empat jam non stop. Pagi hingga sore mengajar di sekolah, malam hari ia harus memikirkan lagi untuk pelajaran besok hari. merencanakan akan memakai metode pembelajaran apa, menyiapkan instrumen penilaian, dan sebagainya.

Ealah.. Kok malah jadi curcol sih! Balik ke topik tulisan!

Mendengar kalimat pujian dari siswa saya, jujur saja, saya melayang. Senang. Jika diperhatikan dengan seksama, maka boleh jadi kepala saya mengembang besar, bangga.

“Kita belajar di SMA SMART 1 Bogor selalu menarik, tidak membosankan.” Katanya lagi.

Ya, selama ini, sebisa mungkin memang kami selalu berusaha menciptakan pembelajaran yang menyenangkan. Kau tentu tahu kan, suasana yang nyaman dan menyenangkan itu pasti baik sekali untuk masuknya pembelajaran yang diberikan, bukan?

Salah satu siswa saya yang lain menimpali, “Iya juga ya..” sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, “Nggak pernah kita bosen di sekolah. Malah betah!”

Dua Puluh Enam Bulan November Tiga Tahun Lalu

SYAIHA - Tanggal dua puluh enam bulan sebelas, tiga tahun yang lalu. Saya ingat sekali, itu adalah hari Sabtu yang cerah. Kok bulan November cerah sih? Bukannya sudah masuk bulan yang penuh hujan?

Aih, seperti yang pernah saya bilang, musim hujan di Negeri kita ini sudah mulai sering sekali telat datangnya. Hari itu, sebelum saya masuk ke ruang pelatihan, saya bisa melihat matahari bersinar indah di langit, awan-awan tipis berjalan pelan tertiup angin. Ya, hari itu, ada pelatihan yang wajib saya ikuti, sebuah rangkaian program dari Sekolah Guru Indonesia (SGI) Dompet Dhuafa, pelatihan kepenulisan.

Tanggal dua puluh enam bulan sebelas, tiga tahun yang lalu. Saya ingat sekali, itu adalah hari Sabtu yang cerah. Kok bulan November cerah sih? Bukannya sudah masuk bulan yang penuh hujan?

Kan di atas sudah saya jelaskan, bahwa musim hujan di Indonesia sering telat. Mungkin mampir dulu di warung-warung kopi, duduk santai hingga lupa bahwa ia harus segera hadir di atas langit negeri ini. Di ruangan yang sedang berlangsung pelatihan kepenulisan itu, seorang lelaki yang usianya mungkin dua puluh tahun lebih tua dariku bilang, “Kita harus menulis setiap hari!”

Hah!?!? Menulis setiap hari? Emang sanggup??

Keraguan itu hadir begitu saja, bak mendung yang mungkin saja akan muncul sebentar lagi, bisajadi siang, atau sore hari hujan datang. Toh, Ia memang sudah telat dan tidak bisa diprediksi lagi kapan akan tiba.

Selasa, 25 November 2014

Akhirnya Aku Menikah

SYAIHA - Tanggal ini, tepat setahun yang lalu, saya ingat sekali, itu adalah hari Minggu yang cerah dengan matahari menggantung tanpa aling-aling. Entahlah, padahal sedang bulan November, bulan yang kata tetua kampungku dulu bilang, “Bulan yang ujung-ujungnya ber-ber itu berarti bulan dengan hujan-hujan yang banyak, lebih sering, dan basah.” Beberapa orang tua, bahkan berkata, “Bulan ini adalah bulan pernikahan, musim kawin.” Kata mereka lagi, “Musim hujan memang musim yang butuh kehangatan, jadi tepat sekali jika pernikahan dilakukan di bulan ini.”

Ah, saya yang masih kecil waktu itu, cuma bisa mengangguk-angguk saja. Tak mengerti.

Tanggal ini, tepat setahun yang lalu, saya ingat sekali, itu adalah hari Minggu yang cerah dengan matahari menggantung tanpa aling-aling. Pagi itu, saya sudah rapi dengan baju kaos merah berkerah putih yang menempel di badan, kata teman saya, “Lu macho banget Syaiha, kalau pake baju itu!”

Sebuah kalimat yang saya sendiri tidak paham maksudnya. Itu ejekan, sindiran, atau pujian? Entahlah.

Tanggal ini, tepat setahun yang lalu, saya ingat sekali, itu adalah hari Minggu yang cerah dengan matahari menggantung tanpa aling-aling. Pagi itu, saya dan teman berencana ke Kota Tua, ada kegiatan kepenulisan dari Forum Lingkar Pena –sebuah komunitas yang sudah saya cari sejak beberapa tahun sebelumnya, sebuah kegiatan yang tentu saja sayang untuk dilewatkan. Gratis bro!

Saya berangkat dengan beberapa orang, lelaki dan perempuan. Mengantri, berdiri memanjang di loket tiket, lalu berjalan bersama ke commuter line ketika tiket sudah di tangan. Gerbong-gerbong commuter line masih sepi, hanya beberapa orang saja yang duduk, tidak ada yang berdiri. Wajar, pasalnya, itu adalah hari libur. Orang-orang yang ke Jakarta tidak sebanyak ketika hari-hari kerja yang selalu berjubel, berdesakan, dan saling himpit seperti ikan sarden di kaleng kecil. 

Jumat, 21 November 2014

Anak-Anak Kecil di Gang Sempit

Syaiha | trainer nasional | Pengidap Polio | penulis inspiratif | novelis | guru | suami romantis | syaiful hadi | blogger | penulis produktif | guru hebat | inspirator nasional | http://syaiha.com/
SYAIHA - Saya tidak pernah tahu, tidak paham, apalagi mengerti, mengapa setiap kali pulang kerja, setiap kali saya melangkah di jalan gang sempit itu menuju kontrakan saya yang mungil, maka anak-anak yang entah memang sedang berkumpul atau sengaja menunggu saya itu, pasti langsung berhamburan, berlari mendekat dan menggamit tangan saya. Salim.

Jika sudah demikian, saya tidak akan peduli lagi, apakah ia sedang ingusan atau tidak, entah air liurnya menempel di tangan saya atau tidak. Semua kejijikan itu hilang begitu saja karena polah mereka yang menggemaskan. Anak-anak selalu begitu, lucu, menarik, dan ngangenin. Jika setiap sore, saat saya pulang dari mengajar saja bisa bahagia dengan kehadiran mereka di gang-gang sempit itu, apalagi nanti ketika anak saya lahir dan tumbuh ya? Pasti amazing banget!

Apa kata sahabat-sahabat saya yang sudah memiliki keturunan waktu itu? “Selelah apapun kita saat pulang kerja, maka lelah itu akan hilang begitu saja saat ngeliat senyum anak-anak kita yang menggemaskan di rumah. Bahkan, dengan kehadiran anak kita, bisa jadi istri kita pun akan dinomor duakan. Anak yang menjadi nomor satu.”

Entahlah, saat ini saya belum bisa memberikan komentar banyak akan hal itu. Saya baru akan menjadi ayah dua setengah bulan lagi, Insya Allah. Tapi yang pasti, sekarang, saat saya baru bisa merasakan tendangan kaki anak saya di rahim istri saja sudah sedemikian menyenangkannya, apalagi nanti. Boleh jadi, yang dikatakan sahabat saya itu memang benar adanya. 

Kamis, 20 November 2014

Ini Menakjubkan!

Syaiha | trainer nasional | Pengidap Polio | penulis inspiratif | novelis | guru | suami romantis | syaiful hadi | blogger | penulis produktif | guru hebat | inspirator nasional | http://syaiha.com/
SYAIHA - Meletakkan tangan di atas perut istri saya yang kian membuncit, lalu merasakan anak kami bergerak-gerak di dalamnya itu sungguh menakjubkan. Sejak dua garis merah terbentuk di test pack (Ini bener nggak ya nulisnya?), lalu melewati hari demi hari, menjadi bulan demi bulan hingga perut istri kian besar, itu keajaiban. Bagaimana bisa, hanya dari cairan, yang kita kenal sebagai sperma, yang awalnya tidak ada bentuknya sama sekali jika dipandang, bisa menjadi seorang bayi mungil yang menggemaskan? 

Inilah keajaiban Allah, Dia maha kuasa, maha hebat, dan bisa melakukan segala-galanya. 

Merasakan gerakan-gerakan itu, entahlah itu pukulan tangan atau tendangan kaki anak kami, itu menjadi kegiatan rutin saya sekarang, setiap hari. Ketika hendak tidur, saat saya baru saja hendak lelap, saat itu pula lah anak kami aktif di perut ibunya. Ia seakan ingin bilang, "Abi... Kok aku nggak diajak ngobrol sih? Padahal kan seharian Abi kerja, emang nggak kangen sama aku?" 

Jika sudah aktif begitu, maka istri saya pasti langsung menarik tangan saya, meletakkan di atas perutnya. Biasanya, kami akan diam sejenak, menunggu gerakan-gerakan itu muncul. Selanjutnya, saat anak kami sudah bergerak dan kami merasakannya, kami tertawa ringan bersama. Saling bilang kalau kami berdua, Abi dan Umminya, sangat menyayanginya. Doa-doa tentang hal-hal yang baik lalu melantun indah, naik ke atas, mengetuk-ngetuk pintu langit. 

Anak kami, tidak hanya bergerak ketika kami hendak tidur saja. Ada dua waktu lagi ketika Ia aktif bergerak-gerak: Pagi hari ketika saya hendak berangkat ke sekolah untuk mengajar -sepertinya ia tahu bahwa ayahnya akan berangkat kerja seharian, minta di belai, dan ketika saya atau umminya sedang membaca Al-Qur'an. Kata istri saya, "Anak kita sedang ikut tilawah sama kita, Bi." 

Rabu, 19 November 2014

True Happiness

Syaiha | trainer nasional | Pengidap Polio | penulis inspiratif | novelis | guru | suami romantis | syaiful hadi | blogger | penulis produktif | guru hebat | inspirator nasional | http://syaiha.com/
SYAIHA - Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel saya kemarin petang. Isinya singkat saja –ya iyalah, namanya juga pesan singkat, begini: “Jika momen-momen bahagia dalam hidup anda terjadi karena hal-hal duniawi, maka ketahuilah bahwa anda belum merasakan true happiness, kebahagiaan yang sebenar-benarnya.”

Membaca pesan singkat itu, serasa ada puluhan pedang yang mencabik-cabik daging. Kalau kata anak-anak jaman sekarang, kena banget! Dalem!

Saya akui, sebagai manusia yang memiliki sifat kemanusiaannya, saya seringnya memang bahagia karena urusan-urusan duniawi saja. Dipuji-puji, saya senang. Dibilang hebat, saya besar kepala. Diagung-agungkan, saya melayang.

Ya Allah, jika selama ini saya bahagia karena itu semua, tentu saja saya memang belum merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Buktinya, saat tidak ada yang memuji-muji, saya suntuk seharian bingung akan melakukan apa. Saat tidak ada yang berkata, “Wah, Mas Syaiha hebat.”, saya kelabakan. Dan ketika tak ada yang mengagung-agungkan, saya sekarat.

Mengenaskan sekali ya!

Memang benar, ada kalanya saya merasa tenang dan damai ketika shalat atau membaca Al Qur’an. Pernah beberapa kali, ketika membaca Al Quran, saya merasa seperti ada di tepian danau yang luas dengan air jernih yang dingin. Tumbuh-tumbuhan hijau menghampar di pinggirannya, angin bertiup lembut menyentuh kulit. Itu benar-benar serasa menyenangkan. 

Selasa, 18 November 2014

Semoga Kartu Indonesia Menikah (KIM) Segera Diluncurkan

Syaiha | trainer nasional | Pengidap Polio | penulis inspiratif | novelis | guru | suami romantis | syaiful hadi | blogger | penulis produktif | guru hebat | inspirator nasional | http://syaiha.com/
SYAIHA - Dini hari, ketika aku sedang menikmati kopi, berselancar menggunakan ponsel, membuka beberapa link berita dan sosial media, dugaan saya benar, dunia maya sedang heboh dengan kenaikan BBM yang baru beberapa jam saja. Sambil menyeruput kopi hitam yang pahit –sepahit perasaan yang merasa dicuri (hak hidupnya), saya berseru pada istri:

“Ummi..” kataku, “Harga BBM naik nih, jadi 8500.”

Istri saya keluar dari kamar, duduk di sampingku dan bilang, “Beneran?”

“Iya..” kataku menyodorkan ponsel, “Nih, baca aja beritanya.”

Beberapa menit istri saya diam, membaca berita yang ada di ponsel. Lalu kemudian berkata, “Maunya apa sih pemerintah? Padahal beberapa waktu lalu, listrik dan air sudah naik. Eh, sekarang malah BBM.”

Aku mengangkat bahu, tidak tahu.

“Kalau BBM naik, pasti semua barang-barang akan naik. Beras naik. Bumbu-bumbu mahal. Apalagi ongkos angkot, pasti melambung.” Katanya bersungut-sungut sebal, “Padahal, belum sebulan bekerja, belum ada apa-apa yang terlihat nyata, eh sudah menaikkan BBM duluan!”

“Sudah..” kataku pelan, “Kita mah apa atuh, cuma sarok-sarok kuaci aja. Kita nggak bisa apa-apa kan?” 
Syaiha | Blogger | Teacher | Trainer | Disability | Penulis Inspiratif
Klik Like/Suka!

×
bloggerForum Blogger Indonesia