Jumat, 19 September 2014

Sebuah Renungan dari Kakek Tua



SYAIHA - Hari ini, saya dan semua siswa saya melaksanakan shalat jumat di sebuah masjid yang mungil di bilangan Bubulak, Bogor. Masjid ini memang berukuran kecil, imut-imut, namun elegan. Bagian dalamnya menggunakan karpet beludru yang lembut dan empuk sekali, membuat siapa saja yang berjalan atau duduk di atasnya nyaman. Beberapa siswa saya malah langsung tertidur ketika kami baru saja sampai disana, --kami sampai sekitar jam 11an, masih lama shalat Jumatnya.

Seorang siswa saya, sebut saja bernama Boby mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Melihat ke kiri, ke kanan, lalu ke atas. Sesungging senyum dan binar-binar menyembur keluar dari kedua bola matanya. Ia kagum.

Tak berselang lama, ia berjalan mendekati saya yang sedang menyelesaikan target tilawah di pojok ruangan, --duduk di karpet nyaman itu membuat semangat saya bertilawah naik berkali-kali lipat. Boby terlihat ingin menyampaikan sesuatu, tapi karena saya masih tanggung, maka saya selesaikan saja dulu tilawahnya, hanya kurang setengah halaman saja.

Kamis, 18 September 2014

Inilah Kesalahan Fatal Seorang Guru



SYAIHA - Salah satu kesalahan seorang pendidik pemula seperti saya, adalah menganggap siswa sepintar dirinya. Artinya, ia melihat siswa seperti melihat dirinya yang lain di dalam cermin. Hal ini sering terjadi ketika ia merencanakan pembelajaran. Misalnya, saat ia membaca materi yang akan disampaikan pada pertemuan berikutnya, kebanyakan guru sering berkata, “Ini materi yang mudah, sekali pertemuan juga siswa pasti paham.”

Eits.. belum tentu.

Jangan samakan kecerdasan siswa dengan kecerdasan kita. Kita yang sekarang mungkin menganggap sebuah pokok bahasan mudah, tapi belum tentu siswa. Kita sekarang menganggap mudah juga karena sudah mendapatkan materi yang sama berulang-ulang, --SD, SMP, SMA, atau bahkan saat kuliah. Maka wajar jika kita menganggap pokok bahasan itu mudah. (Download Ebook Indonesia)

Minggu, 14 September 2014

September Ceriaku





SYAIHA - Bulan ini memang menjadi bulan yang istimewa, September ceria dah pokoknya. Walau sebenarnya setiap bulan saya ceria, --karena emang nggak ada alasan buat cemberut dan tidak bahagia, bukan? Tapi bulan September ini memang membahagiakan buat saya. (Download Ebook Indonesia)

Pertama, bulan ini, tepatnya minggu keduanya, adalah masa empat bulan calon anak kami, --saya dan istri. Empat bulan adalah usia yang konon kabarnya ruh si dedek bayi di dalam perut istri saya akan ditiupkan ke dalam jasadnya, --sehat-sehat ya nak sampai lahiran dan dewasa kelak. Artinya, calon anak kami itu akan hidup dan bergerak-gerak sebentar lagi, Insya Allah.

Ah, pasti membahagiakan.

Bagaimana tidak, sejak tahu istri saya hamil tanggal 24 Juni lalu, saya menjadi punya kebiasaan rutin sekarang, mengelus-ngelus perut istri saya dan berbisik disana, “Abi sayang sama kamu, Nak. Baik-baik di dalam perut ya.” atau “Abi berangkat dulu ya, Nak. Kamu sama ummi di rumah, jangan telat makan ya.” dan sebagainya.

Jumat, 12 September 2014

Selamat Ulang Tahun Istriku..





SYAIHA - Saya ingat sekali, ketika akhir tahun 2013 dulu, istri saya pernah bilang, --waktu itu kami belum menikah, sedang menjalani proses ta’aruf dan sudah sampai pada tahap menentukan tanggal pernikahan yang tepat, katanya “Dari dulu, saya pengennya itu menikah pas tanggal 13 September, Mas.”

Saya sempet shock mendengar kalimatnya, bergumam sendiri “Gilak! Tanggal 13 September? Itu sama aja gue harus nunggu 9 bulan lagi guys. Kalau emang pengen nikah tanggal 13 September, kenapa sekarang mau diajak ta’aruf sama gue?”

Beruntungnya, Allah emang selalu berpihak sama orang baik seperti saya, --narsisnya itu loh, nggak ketulungan, pernikahan yang diagendakan bulan September itu, akhirnya merangkak maju seperti kura-kura yang berjalan mendekat, pelan sih, tapi pasti. Mulanya dimajuin ke bulan enam, eh taunya maju lagi jadi bulan empat tahun dua ribu empat belas. Alhamdulillah.

Dulu, ketika ta’aruf istri saya memang pernah bilang, “Kan kalau nikahnya pas di hari lahir aku, jadi spesial gitu, Mas.” Sambil tersipu-sipu malu, mungkin. Habisnya, saya kan nggak tahu, lah wong via telpon.

Kamis, 11 September 2014

Make Money from Twitter



SYAIHA - Setelah beberapa ide di kepala saya berlarian minggat entah kemana, --ide saya memang terkadang suka begitu, seperti narapidana yang berhasil kabur dari penjara. Pergi nggak bilang-bilang. Maka mulailah saya bingung hendak menuliskan apa. Tapi, karena memang sudah berkomitmen untuk menulis setiap hari, maka saya pun menulis juga. Tulisan ini adalah tulisan ke tiga hari ini, Kamis 11 September 2014.

Tulisan pertama saya tentang parenting. Tentang anak-anak yang susah beradaptasi dengan lingkungan barunya. Jika ingin melihat tulisan itu, silakan saja ke timeline @BanggaJadiGuru. Tulisan itu saya jadikan kultwit disana. (Download Ebook Indonesia)

Tulisan kedua tentang perbedaan lelaki dan perempuan. Saya juga menjadikannya kultwit di twitter saya, @syaifulhadioke. Silakan follow dan insya Allah biasanya saya follow balik.

Akhir-akhir ini, saya memang sedang mengaktifkan lagi twitter saya setelah nyaris dua tahun tak saya sentuh. Maklum, waktu itu saya di pedalaman dan susah sinyal. Dan lagi, di pedalaman memang banyak kegiatan yang harus dilakukan sehingga teronggoklah twitter saya bertahun-tahun. Malang.

Rabu, 10 September 2014

Bahagia Itu..



SYAIHA - Karena sudah lama tidak memposting tulisan di blog, --bukan berarti saya tidak menulis ya, saya tetap menulis setiap hari, hanya memang tidak saya posting di blog. Insya Allah akan saya jadikan buku nanti. Aamiin. Karena sudah lama tidak memposting tulisan di blog, maka hari ini saya menulis untuk blog ini. (Download Ebook Indonesia)

Ini adalah kejadian kemarin, Rabu 10 September 2014. Pagi itu, seperti biasa saya berangkat awal sekali, jam 6 kurang, ke sekolah, --bukan sekolah yang teman-teman bayangkan. Sekolah yang sedang saya rintis ini adalah sekolah berkualitas prima berbasis sosial. Saat ini, siswanya hanya sembilan orang saja, tapi mereka sekolah disini gratis tis tis, nggak bayar sama sekali. Yang ada malah mereka dibayar tiap bulan, dapet uang saku. Bahkan setiap siswanya kami beri pinjaman laptop masing-masing satu unit agar mereka bisa menulis atau melakukan hal-hal produktif lainnya.

Tapi tulisan ini tentu bukan akan membahas sekolah itu, lain kesempatan saja.

Pagi kemarin, ketika saya berangkat ke sekolah dan sedang berjalan ke lokasi, semua mata yang berpas-pasan lewat pasti melirik ke saya malu-malu, --bukan karena saya ganteng, bukan! Tapi memang karena sudah menjadi kebiasaan orang-orang begitu, mereka selalu saya heran jika ada orang yang berbeda lewat di depan mereka.

Selasa, 02 September 2014

Hidup Itu Tidak Melulu Pilihan, Tapi Juga Kewajiban

SYAIHA - Bapak dan Mamak saya bukan orang berpendidikan, hanya orang-orang desa yang sekolahnya tidak seberapa. Tidak ada yang sarjana. Bukan orang-orang intelek dengan gelar berderet-deret di depan dan belakang namanya. Bapak hanya tamatan Pendidikan Guru Agama (PGA), sederajat SMA, sedangkan Mamak hanya seorang perempuan desa yang SD saja tidak kelar. Mamak sering berkisah bahwa di masanya dulu, anak-anak perempuan tidak ada yang sekolah. Tidak ada yang SD. Usia belasan saja mereka sudah akan dinikahi dengan pemuda-pemuda desa. Kata Mamak lagi, orang-orang tua dulu beranggapan bahwa anak perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi. Toh nanti ujung-ujungnya juga hanya akan menjadi ibu rumah tangga yang urusannya hanya dapur, sumur, dan kasur. (Download Ebook Indonesia)

Lain lagi dengan Bapak. Beliau dilahirkan di Banjar Negara, Jawa Tengah. Ia tertakdir menjadi anak pertama dari tujuh bersaudara di keluarga yang tidak mampu. Layaknya anak pertama, maka sejak kecil Bapak sudah memikul beban yang lebih berat dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Cerita tentang perjuangan Bapak untuk menyekolahkan dirinya sendiri dan beberapa adik-adiknya menjadi dongeng patriotik yang membangun jiwa sosial dan kepedulian pada diri saya, mungkin.

Satu cerita heroik yang selalu saya ingat adalah kisah tentang Bapak yang harus mengayuh sepedanya pagi-pagi, berangkat ke sekolah sambil membonceng adik-adiknya. Sepulang sekolah pergi ke sawah atau sungai untuk mencari sayuran yang tumbuh liar, kangkung atau genjer liar jadi langganannya. Malam harinya, Bapak memancing ikan di sungai sambil menginap disana, tidur di atas batu besar yang ada di pinggiran sungai dengan hanya bermodalkan sarung.