Kamis, 23 Oktober 2014

Karena Polio dan Selalu Menulis Setiap Hari Aku Masuk Tipi

SYAIHA - Saat di angkot dalam perjalanan pulang setelah seharian menemani siswa saya mengikuti perlombaan, ponsel saya bergetar, sebuah pesan singkat via whatsapp. Katanya, “Mas Syaiha, keren euy diliput sama NET TV. Itu gimana ceritanya, Mas? Kalau punya kontak person media-media nasional, bagi-bagi ke saya dong, kali aja bisa kerja sama dengan mereka untuk ngeliput kegiatan saya dan teman-teman.”

Saya tersenyum membaca pesan singkat itu dan membalasnya “Saya nggak punya kontak person mereka,” kataku, “Kemarin reporter NET TV yang tiba-tiba menghubungi saya.”

“Kok bisa? Gimana ceritanya, Mas?”

Lalu mengalirlah cerita itu, ketika minggu sore, saat saya dan istri sedang bersantai menunggu waktu shalat Maghrib datang, sebuah telepon masuk ke ponsel.

“Benar dengan Mas Syaiha?”

“Iya, saya sendiri.” jawabku, “Maaf, ini siapa ya?”

Dia lalu menjelaskan bahwa dirinya adalah reporter NET TV. Pada hari Jumat tanggal 24 Oktober nanti, saat program Indonesia Morning Show, mereka ingin menayangkan tentang polio. Nah, saat searching di internet tentang hal itu, mereka terdampar ke blog saya ini, http://syaiha.com.  

Rabu, 22 Oktober 2014

Sembilan Siswa yang Menakjubkan!

SYAIHA - “Jangan lupa ya..” kata Ustadzah Triya mengingatkan siswa-siswa SMA SMART 1 Bogor, “Di atas panggung, tidak ada yang salah dan tidak boleh saling menyalahkan. Di atas panggung, semuanya benar.”

Kesembilan siswa SMA SMART 1 Bogor, yang biasa kami sebut dengan wali songo karena memiliki kemampuan hebat di masing-masing bidang, diam mendengarkan khidmat. Pada sorot mata mereka, saya melihat antusiasme yang menggelegak bak lava sebuah gunung merapi yang siap meledak-ledak.

“Di dalam sebuah perlombaan,” kata saya, “Menang atau tidak, itu urusan belakangan. Yang paling utama adalah kalian tampil maksimal.”

“Panggung itu milik kalian,” Ustadzah Triyah menyambar, “Berbuatlah sebaik-baiknya disana.”

Sekitar jam satu siang lebih dua puluh satu menit, barulah giliran siswa kami tiba. Ini adalah sebuah waktu yang tidak bersahabat: panas menyengat, penonton sudah mulai malas karena mengantuk kekenyangan setelah makan siang, juga beberapa kendala teknis seperti microfon yang beberapa kali sering terkendala, bersuara tapi tak jelas. 

Selasa, 21 Oktober 2014

Bagaimana Menulis Novel Hanya dalam Waktu Satu Bulan?

SYAIHA - Seseorang suatu kali pernah bertanya, “Mas Syaiha, bagaimana caranya bisa menyelesaikan novel hanya dalam satu bulan? Apalagi, novel Sepotong Diamnya mas Syaiha itu kan lumayan tebal, 340 halaman!”

Ya, Sepotong Diam adalah novel pertama saya yang dikerjakan hanya dalam waktu satu bulan, lebih tepatnya, tiga minggu draft kasarnya selesai.
Bagaimana bisa?

Pertama, untuk bisa menyelesaikan itu tentu saja dibutuhkan fokus yang tinggi. Saat menyelesaikan novel itu, kegiatan saya hanya satu, mengajar. Sisanya, waktu selalu saya digunakan untuk memikirkan, mencorat-coret, dan menuliskan beberapa ide yang tetiba saja muncul. Kertas dan pena selalu ada di kantung kemeja depan, bersiap bekerja saat ide atau apapun melintas.

Selain itu, saya pun sering merenung sendirian di pojok ruangan. Diam menyendiri hanya untuk mencari inspirasi. Dan alhamdulillah tulisan itu selesai sesuai yang diharapkan.

Senin, 20 Oktober 2014

Sekolah yang Bagus itu..




SYAIHA - Sabtu malam, seorang ibu-ibu menghubungi saya, bertanya banyak hal tentang pendidikan. Katanya, “Mas Syaiha, anak saya ini sekarang di pesantren sudah kelas 3 SMP. Nah, menurut mas Syaiha, bagusnya anak saya ini tetap di pesantren atau dimasukkan ke SMA saja ya?”

Aku diam beberapa detik, lalu kembali bertanya, “Kalau boleh tahu, cita-cita anak ibu apa?”

“Ia ingin jadi pilot, Mas.”

“Oh..” ujarku lagi, “Kalau begitu, carilah sekolah yang pendidikan formalnya bagus dan pendidikan keagamaannya juga oke. Karena mau tidak mau, untuk menjadi pilot dibutuhkan pondasi yang kuat di pendidikan IPA dan Matematikanya.”

“Gimana kalau SMA itu?” ia menyebutkan sebuah nama dan saya mengenal baik SMA tersebut.

“Bu, manusia itu hakikatnya terdiri dari tiga unsur yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain: fisik, akal, dan hati. Dan ketiganya, memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi. Kebutuhan fisik adalah pangan, sandang, dan papan. Sedangkan dalam pendidikan, kebutuhan fisik dipenuhi dengan pelajaran olah raga.”

Jumat, 17 Oktober 2014

Kurikulum Dua Ribu Tiga Belas



SYAIHA - Layaknya orang tua, tidak mungkin, --bahkan tidak pernah ada orang tua yang ingin menjerumuskan anaknya ke jalan sesat dan menyesatkan. Sekalipun ia adalah binatang, tidak pernah sekalipun ada binatang yang ingin menyesatkan (baca: mencelakakan) anaknya. Mustahil!

Begitupun dengan negara ini, --terutama kementerian pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia, tentu saja mustahil mereka membuat kebijakan yang mencelakakan. Kebijakan yang mereka buat pasti sudah melalui beberapa tahap analisis, sudah menempuh waktu yang lama bahkan bisa bertahun-tahun, dan pasti sudah menghabiskan dana banyak.

Termasuk kurikulum 2013 yang saat ini mengalami banyak masalah dan kendala dalam penyebaran buku pembelajarannya. Hal ini wajar, karena sarana transportasi kita kurang memadai dan wilayah negara kita luas. Maka, jika ada penyebaran buku yang belum sampai, husnuzdon saja, mungkin lagi dalam perjalanan.

“Tapi mas Syaiha, banyak guru-guru yang belum bisa menjalankan kurikulum ini loh.”

Benar. Ketika KBK baru diberlakukan juga demikian, banyak guru-guru yang belum bisa mengaplikasikannya dalam pembelajaran mereka di kelas.

Kamis, 16 Oktober 2014

Dua Hal ini Paling Saya Hindari


Gambar nggak nyambung

SYAIHA - Entahlah, saya pernah menuliskan tentang ini atau belum, bahwa sebagai seorang difabel, --kaki kanan saya kecil karena polio, saya memiliki dua hal yang selalu ingin saya hindari: pertama dipoto full body dan, kedua berjalan di depan cermin atau apapun yang bisa memantulkan bayangan saya yang sedang berjalan.

Mengapa saya tidak menyukai dua hal itu?

Alasannya simpel sih, jika saya dipoto seluruh badan, atau melihat bayangan saya sendiri yang sedang berjalan di depan cermin atau kaca, maka saya menjadi sadar bahwa saya difabel. Saya sadar bahwa saya tidak sama dengan kalian. Padahal, selama ini saya selalu memosisikan diri sebagai orang yang sama seperti kalian, orang-orang yang sempurna fisiknya.

Dan memang, kedua orang tua saya pun tidak pernah membeda-bedakan saya dengan ketiga saudara saya yang lain. Jika mereka harus mencangkul di kebun, saya juga pernah melakukannya. Orang tua saya sengaja mendidik demikian, agar saya tidak menjadi minder dan rendah diri. Bagaimanapun, saya seharusnya bisa melakukan beberapa hal yang bisa kalian lakukan juga.

Rabu, 15 Oktober 2014

Mas Syaiha Beneran Difabel ya?


Saya dan beberapa pegawai dinas pendidikan kabupaten Sambas

SYAIHA - Sore kemarin, seseorang tiba-tiba mengirimi pesan vi inbox di Fan Page pribadi saya, --poto propilnya seorang perempuan berjilbab, saya tidak mengenal sepenuhnya, bukan teman di dunia nyata. Ia adalah sahabat dunia maya, seseorang yang mungkin sering membaca tulisan saya di blog atau di Fan Page.

Katanya, “Mas, maaf.. Mas Syaiha ini beneran difabel ya?”

Saya sempet mengernyitkan dahi sejenak, “Ia pasti tak yakin kalau saya difabel. Habisnya, hampir semua poto saya yang ada di facebook dan blog, nggak ada yang full badan atau yang sedang berjalan.”

Sebagai difabel, saya yang kalau berdiri tidak pernah sempurna, yang kalau berjalan tidak pernah bagus, dipoto full badan adalah suatu hal yang saya hindari. Jelek sekali. Nggak ada gagah-gagahnya sama sekali. Berbeda jika dipoto setengah badan, hanya sebatas pinggang ke atas, saya akan terlihat gagah dan (sedikit) ganteng, --itu kata ibu saya loh.