Kamis, 28 Agustus 2014

Ketika Saya Hampir Menyerahlah Jodoh Itu Akhirnya Datang (Selesai)



SYAIHA - Sekali lagi, kesalahan fatal saya dalam kisah ini adalah lupa menuliskan kapan terjadinya, lupa hari, lupa tanggal, dan bulannya. Tapi yang pasti, kejadian ini berlangsung hanya beberapa bulan sebelum saya berangkat ke pedalaman Kalimantan sebagai relawan pendidikan dari Sekolah Guru Indonesia (SGI) Dompet Dhuafa. Kira-kira di akhir tahun 2011. (Silakan lihat versi videonya DISINI || Cerita Pertama >> Ketika Saya Hampir Menyerahlah Jodoh itu Akhirnya Datang)

Ada dua kebiasaan yang sering saya lakukan kala stress menjajah kepala saya. Pertama, ketika stress itu datang, biasanya saya akan pergi ke stasiun Bogor, membeli tiket menuju Jakarta kota. Di dalam kereta, sepanjang perjalanan akan saya gunakan untuk sekedar merenung saja. Duduk menyendiri dengan headset mencengkeram erat di kedua telinga saya. Volumenya saya buat maksimal untuk menghilangkan suara-suara lain menyelinap masuk, hingga akhirnya, walau dalam keramaian, saya akan benar-benar merasa sendiri. (Yang mau Ebook Hingga Puluhan Ribu, Klik DISINI)

Perbaiki Pendidikan demi Indonesia yang Lebih Baik



SYAIHA - “Beritahukan padaku, berapa guru-guru kita yang masih hidup?” begitu kata kaisar Jepang kala itu. Konon, kalimat itu keluar ketika dua kota di Jepang, Nagasaki dan Hiroshima, baru saja mendapatkan hadiah istimewa dari sekutu, luluh lantak dan hancur lebur. (Download Ebook Terbaik dan Terlengkap)

Kita memang tidak pernah tahu, kalimat itu benar-benar diucapkannya atau tidak. Kita tidak pernah benar-benar tahu itu mitos atau kenyataan. Tapi, tidak peduli itu benar atau tidak, Jepang membuktikan bahwa hanya dalam waktu sekitar 69 tahunan saja mereka bisa bangkit dan mengusik kekuatan Amerika di dunia.

Jepang mampu mengganggu dominasi negara adi daya. Bagaimana bisa?

Tentu saja, Jepang tidak mungkin mengandalkan SDA mereka. Wilayah mereka tidak sekaya Indonesia yang katanya sebongkah tanah surga. Tidak tanggung-tanggung, saking suburnya, tongkat kayu dan batu saja bisa menjadi tanaman jika di lemparkan ke Indonesia yang kaya raya ini. Menakjubkan.

Selasa, 26 Agustus 2014

Tanpa Guru, Indonesia bukan Apa-apa


Pembelajaran Matematika bersama Saya

SYAIHA - Dalam bahasa Inggris, guru itu ditulis dengan TEACHER. Nah, dalam tulisan singkat ini, saya hanya ingin mencoba menurunkan beberapa kata dari huruf-huruf pembentuk kata TEACHER itu dan berusaha mengambil beberapa hikmah yang mungkin berguna bagi kita semua, terutama untuk guru. (Yang suka ngoleksi ebook >> Kumpulan Ebook Indonesia)

Kata pertama yang bisa kita ambil dari TEACHER adalah EACH yang berarti tiap-tiap. Artinya, seorang guru harus menyadari bahwa setiap anak adalah istimewa. Ingatlah bahwa tidak ada anak yang bodoh, yang ada adalah kecerdasan mereka berbeda satu sama lain.

Seorang anak mungkin saya sangat cerdas di bidang seni tapi tidak begitu baik dalam pelajaran Matematika dan sebagainya.

Senin, 25 Agustus 2014

Mencicil Tiket Kematian



SYAIHA - Pagi ini, saya beruntung karena walau bangun agak kesiangan, bangun ketika jam dinding nyaris menunjukkan pukul 4, tapi jalanan masih belum macet ketika saya berangkat. Saya juga beruntung, karena pak RT yang selalu rajin adzan di mushalla dekat kontrakan saya, sedang akan keluar dan memberikan saya tumpangan. Syukurlah. (Tempatnya Ribuan Ebook >> DISINI)

Selalu ada kebaikan di setiap kesusahan.

Pak RT mengantarkan saya ke terminal laladon. Selanjutnya, saya menuju ke sekolah yang sedang saya rintis menggunakan angkot.

Ketika saya berjalan ke arah sebuah angkot jurusan Situ Daun, seseorang berujar, “Angkot yang itu duluan, Mas.” Kata seorang lelaki berusia sekitar tiga puluhan. Ia mengenakan kaos hitam lusuh dan celana jeans yang robek di beberapa bagian. Rambutnya acak-acakan, seperti orang-orang yang baru bangun tidur.

Minggu, 24 Agustus 2014

Biarkan Allah saja yang Mencukupkan



Sehabis berbagi di Univ. Brawijaya Malang

SYAIHA - Dulu, saya sempat mengeluh sama Allah tentang kondisi saya ini, kaki kanan saya “istimewa”. Saya iri dengan mereka-mereka yang bisa berjalan normal, saya ingin seperti mereka yang bisa berlari kencang. Sayangnya, itu mustahil. Saya harus tumbuh dengan kaki yang “istimewa” dan tidak bisa melakukan itu semua.

Bohong, jika saya bilang bahwa saya tidak pernah putus asa! Bohong, jika saya katakan saya selalu bersemangat dalam menjalani kehidupan ini!

Saya pernah putus asa, saya juga pernah tidak bersemangat suatu ketika.

Dan salah satu hal yang sering saya keluhkan dulu adalah, “Ya Tuhan, dengan kondisi ini, mungkinkah saya bisa mencari nafkah sendiri? Mungkinkah saya bisa mendapatkan pekerjaan yang saya inginkan?”

Beberapa Cara Menyenangkan Hati Istri

SYAIHA - Beberapa hari lalu ada yang mengirimkan saya pesan singkat, isinya juga singkat, tidak panjang. Ia hanya bilang, "Wah beruntung ya mbak Ella punya suami romantis kayak Mas Syaiha."

Aku tercenung. Bingung. "Mbak Ella beruntung?"

Sejatinya, saya lah yang beruntung mendapatkan seorang istri jelita rupa dan jiwa, cantik hati dan wajahnya. Kalaupun selama ini saya terlihat melakukan ini dan itu untuk istri saya, tak lain adalah bentuk rasa syukur dan terimakasih saya kepada Allah.

Ya, karena esensi dari sebuah kesyukuran adalah mengisinya dengan hal-hal baik. Memenuhinya dengan perbuatan-perbuatan bernilai ibadah dan berkah.

Sabtu, 23 Agustus 2014

Bahagianya Mereka


Siswa SMA SMART 1 Bogor, Pembelajaran Matematika
SYAIHA - Bertemankan secangkir kopi asli Toraja yang nikmat buatan istri saya, pagi itu saya menggunting-gunting kertas soal matematika menjadi beberapa bagian. Karena ada sekitar sembilan kertas yang harus di potong-potong kecil, maka saya meminta bantuan istri saya yang baru saja menyelesaikan tilawah Al Qur’annya pagi itu.

“Sayang..” kataku pelan, “Sibuk nggak?”

Sambil merapihkan sajadah dan mukenah yang Ia gunakan, Ia bilang, “Nggak sibuk kok, Mas. Ada apa emang?”

Saya tersenyum, menyeruput kopi di cangkir mungil, lalu meminta bantuannya, “Bisa bantuin mas gunting-gunting kertas ini nggak?”

“Bisa.”