Jumat, 17 Oktober 2014

Kurikulum Dua Ribu Tiga Belas



SYAIHA - Layaknya orang tua, tidak mungkin, --bahkan tidak pernah ada orang tua yang ingin menjerumuskan anaknya ke jalan sesat dan menyesatkan. Sekalipun ia adalah binatang, tidak pernah sekalipun ada binatang yang ingin menyesatkan (baca: mencelakakan) anaknya. Mustahil!

Begitupun dengan negara ini, --terutama kementerian pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia, tentu saja mustahil mereka membuat kebijakan yang mencelakakan. Kebijakan yang mereka buat pasti sudah melalui beberapa tahap analisis, sudah menempuh waktu yang lama bahkan bisa bertahun-tahun, dan pasti sudah menghabiskan dana banyak.

Termasuk kurikulum 2013 yang saat ini mengalami banyak masalah dan kendala dalam penyebaran buku pembelajarannya. Hal ini wajar, karena sarana transportasi kita kurang memadai dan wilayah negara kita luas. Maka, jika ada penyebaran buku yang belum sampai, husnuzdon saja, mungkin lagi dalam perjalanan.

“Tapi mas Syaiha, banyak guru-guru yang belum bisa menjalankan kurikulum ini loh.”

Benar. Ketika KBK baru diberlakukan juga demikian, banyak guru-guru yang belum bisa mengaplikasikannya dalam pembelajaran mereka di kelas.

Kamis, 16 Oktober 2014

Dua Hal ini Paling Saya Hindari


Gambar nggak nyambung

SYAIHA - Entahlah, saya pernah menuliskan tentang ini atau belum, bahwa sebagai seorang difabel, --kaki kanan saya kecil karena polio, saya memiliki dua hal yang selalu ingin saya hindari: pertama dipoto full body dan, kedua berjalan di depan cermin atau apapun yang bisa memantulkan bayangan saya yang sedang berjalan.

Mengapa saya tidak menyukai dua hal itu?

Alasannya simpel sih, jika saya dipoto seluruh badan, atau melihat bayangan saya sendiri yang sedang berjalan di depan cermin atau kaca, maka saya menjadi sadar bahwa saya difabel. Saya sadar bahwa saya tidak sama dengan kalian. Padahal, selama ini saya selalu memosisikan diri sebagai orang yang sama seperti kalian, orang-orang yang sempurna fisiknya.

Dan memang, kedua orang tua saya pun tidak pernah membeda-bedakan saya dengan ketiga saudara saya yang lain. Jika mereka harus mencangkul di kebun, saya juga pernah melakukannya. Orang tua saya sengaja mendidik demikian, agar saya tidak menjadi minder dan rendah diri. Bagaimanapun, saya seharusnya bisa melakukan beberapa hal yang bisa kalian lakukan juga.

Rabu, 15 Oktober 2014

Mas Syaiha Beneran Difabel ya?


Saya dan beberapa pegawai dinas pendidikan kabupaten Sambas

SYAIHA - Sore kemarin, seseorang tiba-tiba mengirimi pesan vi inbox di Fan Page pribadi saya, --poto propilnya seorang perempuan berjilbab, saya tidak mengenal sepenuhnya, bukan teman di dunia nyata. Ia adalah sahabat dunia maya, seseorang yang mungkin sering membaca tulisan saya di blog atau di Fan Page.

Katanya, “Mas, maaf.. Mas Syaiha ini beneran difabel ya?”

Saya sempet mengernyitkan dahi sejenak, “Ia pasti tak yakin kalau saya difabel. Habisnya, hampir semua poto saya yang ada di facebook dan blog, nggak ada yang full badan atau yang sedang berjalan.”

Sebagai difabel, saya yang kalau berdiri tidak pernah sempurna, yang kalau berjalan tidak pernah bagus, dipoto full badan adalah suatu hal yang saya hindari. Jelek sekali. Nggak ada gagah-gagahnya sama sekali. Berbeda jika dipoto setengah badan, hanya sebatas pinggang ke atas, saya akan terlihat gagah dan (sedikit) ganteng, --itu kata ibu saya loh.

Selasa, 14 Oktober 2014

Inilah Sebabnya Mengapa Pendidikan di Negeri ini Tidak Kunjung Membaik


Pendidikan di Rumah itu Penting

SYAIHA - Kita semua paham, bahwa tempat terjadinya pendidikan di negeri ini ada tiga: rumah, --dalam hal ini orang tua dan keluarganya, sekolah dan semua elemen di dalamnya, serta lingkungan masyarakat. Ketiganya, --rumah, sekolah, dan lingkungan; harus bersama-sama, saling mendukung, dan bergandengan tangan untuk memajukan pendidikan di negeri ini.

“Rumah, dalam hal ini keluarga –orang tua dan saudara-saudaranya,” ujar Prof. Ahmad Tafsir dalam salah satu kuliahnya, “bertanggung jawab atas pendidikan agama, akhlak, dan kepribadian anak.”

“Saat masuk ke sekolah dasar,” Ujar Prof. Ahmad Tafsir lagi, “seharusnya masalah pendidikan agama, akhlak, dan kepribadian sudah beres. Paling tidak dasar-dasarnya sudah tertanam baik dalam kehidupan mereka.”

“Sedangkan sekolah, bertanggung jawab akan pendidikan intelektualitas sang anak. Jikapun ada penanaman nilai-nilai kebaikan, --pendidikan agama, akhlak, dan kepribadian, itu bukan kegiatan utama sekolah. Sekolah hanya memoles atau menambahkan sedikit untuk mempercantik kehidupan sang anak.”

Senin, 13 Oktober 2014

Edan!! Anak Sekolah Berkelahi, Ciuman, dan Bermesra!



SYAIHA - Dua hari ini, saya dibuat geleng-geleng kepala atas beberapa kiriman poto dan video dari teman-teman sesama pendidik. Emang poto dan video apa sih, kok bisa sampai buat saya geleng-geleng kepala? Nah, silakan dilihat ya..

Pertama, video kekerasan yang terjadi di salah satu SD swasta di Bukit Tinggi (LINK DISINI)
Kekerasan Anak Sekolah Dasar di Bukit Tinggi
Kedua, poto anak sekolah lagi ngajak mantan pacarnya balikan di sekolah, dilakukan di tengah lapangan, disaksikan oleh semua teman-temannya, sambil mengecup kening si perempuan. 

Sabtu, 11 Oktober 2014

Prof. Ahmad Tafsir: Pendidikan Indonesia sedang Rusak Parah!



SYAIHA - Dalam desing suara dua pendingin ruangan, lelaki sepuh itu berkata, “Saat ini, pendidikan di negeri kita sedang parah-parahnya!”

Dia adalah Prof. Ahmad Tafsir, seorang guru besar dan ahli pendidikan yang mumpuni. Usianya sudah menginjak 74 tahun, tapi kemampuan analisis dan kecerdasannya masih terpancar hebat di garis-garis wajahnya. Sebuah kaca mata tebal, rambut klimis, dan suaranya yang berat, menjadikannya lebih berwibawa dan meyakinkan.

Saya beruntung bisa menjadi mahasiswa beliau pada semester 3 ini. Kalau sebelum-sebelumnya, saya hanya bisa bercakapan satu arah saja dengan membaca buku-buku beliau, maka pada kesempatan ini saya bisa berdiskusi dan bertanya banyak hal kepadanya.

“Pendidikan negeri kita sedang parah-parahnya? Bagaimana bisa?” tanyaku dalam hati, “Bukankah dalam satu dasawarsa ini Indonesia sedang giat sekali memperbaiki pendidikan menjadi lebih baik? Karakter yang sebelumnya terabaikan, sekarang mulai diperhatikan. Bukankah ini sebuah kemajuan?” 

Jumat, 10 Oktober 2014

Seharusnya Bukan Pacaran Sehat Judulnya


Pacaran Sehat?

SYAIHA - Kamis, 9 Oktober 2014, whatsapp saya mendapatkan sebuah pesan singkat tentang kekhawatiran akan pacaran sehat, --emang ada?

Katanya, pacaran sehat masuk dalam sebuah buku penjaskes kurikulum 2013 dan ini mengkhawatirkan. Karena sedang mengajar di kelas, maka saya mengabaikan saja pesan itu, lagi pula, dengan semakin cepatnya sebuah informasi tersebar di masa sekarang, maka mempercayai sebuah pesan singkat begitu saja, adalah sebuah kecerobohan yang fatal. Saya diamkan pesan singkat itu, tidak ikut panik apalagi ikut menyebarkannya.

“Semoga saja hoax!”

Saya lalu mengajar seperti biasa, menggunakan video pembelajaran yang menarik, berkeliling menemani siswa, dan memberi bantuan kepada siapa saja yang membutuhkan. Pembelajaran berjalan sesuai yang saya rencanakan, anak-anak suka. Ya, simpel saja, bagi saya, sebuah pembelajaran yang berhasil adalah ketika semua siswa suka dan merasa senang belajar. Jika mereka tak senang, maka ada yang salah dengan saya, dengan gurunya.