Jumat, 28 Juni 2013

Perempuan Tangguh



Keindahan sebutir mutiara tidak pernah hadir begitu saja, ia adalah hasil dari proses menyakitkan yang dijalani dengan sabar oleh kerang mutiara

Perempuan Tangguh
Katanya, perempuan itu jauh lebih cepat menjadi dewasa dibandingkan laki-laki. Salah satu ciri kedewasaan hidup adalah munculnya kemauan mengambil tanggung jawab yang lebih dibandingkan orang lain. Lagi-lagi kabarnya perempuan lebih banyak melakukan itu, memungut tanggung jawab yang berserakan dan memikulnya untuk menyiapkan kehidupannya kelak. 

Benarkah?

Aku sendiri tidak tahu pasti kebenarannya. Masih perlu dibuktikan dengan penelitian mendalam sehingga bisa diakui kebenarannya. Tapi setelah berkaca pada cermin realita yang terhampar luas di setiap hari-hariku. Memperhatikan dan menilai lalu menyimpulkan.


Kejadian itu baru saja terjadi dua hari yang lalu, Rabu 26 Juni 2013, saat aku melihat seorang perempuan tergopoh-gopoh dengan langkah panjang-panjang menuju pelataran gedung Graha Widya Wisuda (GWW) IPB dengan kedua tangannya membopong kardus yang penuh dengan dompet berwarna-warni dan unik. Aku menebak, itu adalah hasil kreativitasnya sendiri.

Di depan GWW ia membuka lapak seadanya, menggelar sapu tangan lebar dan menyusun puluhan dompet itu disana. Di lihat dari penampilan dan raut wajahnya, dia pasti masih mahasiswa. Toh tidak aneh lagi, banyak mahasiswi yang melakukan hal serupa.

Seperti ketika kuliah dulu, teman-teman perempuanku banyak yang kuliah sambil menyingsingkan lengan bajunya. Mengais rupiah demi rupiah untuk memenuhi kebutuhannya. Mereka tidak pernah pilih-pilih, asal itu halal, mereka akan dengan senang hati melakukannya. Mereka riang gembira membawa beberapa kotak snack dan mengedarkannya di kelas saat kuliah, ada pula yang mengedarkan katalog pakaian muslimah, mulai dari jilbab hingga gamis, atau membawa sekotak donat dan menjualnya ke teman-teman sekolah. Jadilah, kelasku dulu seperti pasar ilegal, jual beli terjadi saat dosen ngoceh di depan.

Tentu saja tidak mungkin mengharapkan kebanjiran uang dari pekerjaan yang mereka lakukan. Apalagi mereka masih mahasiswi dan tidak memiliki pengalaman apa-apa. Tiap hari hanya recehan yang berhasil masuk ke dalam dompet mereka sebagai keuntungannya. Tapi sekali lagi, mereka bahagia melakukannya. Bahkan diantaranya mengaku, bukan uang tujuan mereka melakukan semua itu.

“Belajar memaknai hidup” kata mereka yakin.

Walau jelas sekali kegiatannya belum memberikan kemapanan finansial, jelas sekali aku iri dengan si perempuan penjual dompet kemarin atau ke teman-temanku lainnya. Jelas sekali ada gurat-gurat kebahagiaan di wajahnya. Mereka selalu bisa menikmati jengkal demi jengkal perjuangan itu walau harus jatuh bangun berkali-kali.

Allahu Akbar!!

Mengapa mereka bisa begitu menikmati setiap proses yang dilakukannya? Tidak lain karena mereka sadar bahwa kehidupan adalah sebuah sawah perjuangan, tempat menanamkan benih-benih kesuksesan. Ya, tugas mereka hanya menanamkan benih-benih itu, masalah nanti ia akan panen berlimpah atau gagal, tidak masalah. Mereka lagi-lagi sadar, tugasnya hanya menanam dan merawat. Masalah hasil hanya milik sang raja manusia, Allah swt. Tuhan mereka dan tuhan kita semua.

Mereka, perempuan-perempuan hebat yang masih mahasiswi itu sudah memutar otaknya di awal hari. Detak perjuangan mereka sudah berdegup kencang pagi-pagi sekali. Di siang hari saat wajah-wajah mereka memanen minyak karena terik mentari, yang tergambar adalah kebahagiaan tak terlukiskan. Tetes demi tetes peluh sebesar biji jagung akan menjadi saksi-saksi bisu bahwa mereka adalah hamba Tuhan yang selalu produktif.

Di tengah kesibukan mencari recehan, mereka tetap tidak pernah lupa tugasnya sebagai mahasiswi. Menejemen waktu mereka hebat. Srikandi-srikandi muda ini tetaplah seorang mahasiswi dengan indeks prestasi yang membanggakan. Pokoknya, setiap detik dalam hidup mereka, harus diisi dengan kegiatan produktif dan bermanfaat.

Dari kegiatan gadis penjual dompet dan beberapa teman perempuanku dulu, aku bisa mendengar sikap mereka berkata, ‘Pantang bergantung pada manusia, sekalipun kepada suami nanti!’. Ya, sejak dini mereka sudah menanamkan dalam diri sendiri untuk mandiri.

Hebat!!

Jika dibandingkan pada kalangan mahasiswa laki-laki, jauh sekali perbedaannya. Seperti dua kutub yang tidak pernah saling bertemu. Ketika mereka, mahasiswi sibuk mematangkan diri, mahasiswa malah berleha-leha dan membuang waktu sia-sia. Padahal, justru kelak merekalah yang akan memikul tanggung jawab besar.

Ada yang ketika matahari sudah sombong bercahaya, dia masih tidur. Sebagian lainnya malah ada yang hobinya ngerumpi, nonton TV, atau malah bengong sendirian seperti seperti orang gila dipojok ruangan. Sibuk dengan dunianya sendiri yang tidak manfaat.

Ketika di todong untuk bekerja, bermacam dalih keluar, ‘Tugas saya kesini untuk kuliah, bukan mencari uang’ atau ‘Ah, kiriman orang tuaku cukup kok untuk hidup setiap bulan’ atau ‘Aku mau sih kuliah sambil kerja, tapi maunya yang di dalam ruangan, nggak panas-panasan’ atau malah ada yang berkata ringan ‘Semoga aja nanti aku dapet istri cantik, kaya raya, anak tunggal, dan orang tuanya segera meninggal’. Semoga saja itu hanya omongan ringan tidak seriusan.

Sayangnya, harapan yang berlebihan sering kali menyisakan luka yang teramat pedih. Waktu wisuda boleh saja gagah karena mendapatkan nilai yang membanggakan. Cum laude. Puja dan puji datang silih berganti. Bertangkai-tangkai bunga di genggam hasil pemberian teman-teman. Hingga sertifikat dan piagam penghargaan menjadi sangat menakjubkan. Kala itu, dunia seakan-akan sudah berada di dalam genggamannya.

Tapi, tidak!

Tawa riang itu, puja dan puji itu, paling hanya bertahan satu minggu saja. Berganti sebuah pertanyaan yang menyesakkan, ‘Sudah kerja dimana sekarang?’. Baru sadar bahwa nilai yang tinggi bukanlah jaminan mudahnya memperoleh pekerjaan. Jadilah ia menjadi bahan omongan. Tidak ada lagi yang peduli dengan nilai cum laude nya.

Tidak ada yang peduli sama sekali.

Berbeda dengan perempuan-perempuan tangguh tadi. Walau tidak cum laude, mereka tetap lulus dengan nilai yang baik. Bahkan sekarang, saat si lelaki cum laude tadi merana tidak memiliki pekerjaan, bisa jadi perempuan penjual dompet kemarin sudah memiliki toko sendiri. Jika sekarang ia masih jalan kaki menjajakan dompetnya, bisa jadi nanti ia mampu membeli kendaraan untuk memasarkan dompetnya.

Sebab mereka adalah perempuan-perempuan tangguh yang setia memeluk proses walau melakukannya sungguh berat. Menyakitkan. Panas. Sepanas menggenggam bara api. Tapi dengan demikian mereka menjadi perempuan tangguh yang mampu menghadapi seleksi alam. Mereka tidak perlu cemas menatap masa depan, karena sudah jauh-jauh hari menempa diri.

Sekali lagi, hidup itu membutuhkan proses! Nikmatilah.

3 komentar:

  1. sama ternyata ya,kayak di kampusku,banyak yg bawa kotak donut ke kampus. Memang seharusnya begitu,semangat dan optimis...
    terus berkarya..salam

    BalasHapus
  2. terimakasih sudah mampir, salam

    BalasHapus
  3. "Hidup membutuhkan proses". mantap bang syaiful, walaupun dengan susah payah melakukannya dan psti Insya Allah kita akan menikmatinya kelak.
    Tulisan-tulisan bang syaiful insya allah selalu menginspiratif saya.

    (y).

    BalasHapus

SyaiHa adalah penyandang Disability, kaki kanannya terkena polio sejak usianya satu tahun. Dengan keterbatasannya sekarang, ia ingin berbagi semangat, inspirasi, dan harapan. Termasuk dengan semua tulisannya yang ada di blog ini. Maka mohon, jika tulisannya bagus, boleh disebarkan sesuka hati. Salam.